Pildun dan Status Daerah Paling Tertinggal

Junaidi Drakel. Foto: Istimewa

Oleh: Junaidi Drakel

Akhir-akhir ini, sebagian besar masyarakat Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara tengah disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang hanya bersifat serimonial.

Mulai dari kegiatan Gabalil Hai Sua atau keliling tanah Sula, kemudian lomba poco-poco dan tarik tambang pada saat hari ulang tahun (HUT) Kabupaten Kepulauan Sula, dan yang terakhir momentum Piala Dunia (Pildun) 2026.

Ketiga kegiatan itu, sebagian masyarakat Kepulauan Sula sangat bersemangat dan penuh antusias sekaligus berpartisipasi untuk mengikuti atau terlibat. Padahal banyak sekali masalah di daerah yang sampai saat ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah daerah (Pemda).

Masalah yang paling penting dibahas, adalah status daerah paling tertinggal. Dari 10 kabupaten kota yang ada di Maluku Utara, Kepulauan Sula dan Pulau Taliabu merupakan dua daerah yang berstatus paling “memalukan”.

Yang berikut, masalah pemadaman listrik. Harus disadari, sejak Kepulauan Sula dimekarkan jadi kabupaten tahun 2003, masyarakat sudah keluhkan pemadaman listrik. Sekarang sudah masuk 2026, usia kabupaten sudah 23 tahun, tapi kita masih keluhkan hal ini. Jalan di tempat.

Kemudian, jika berbicara soal Piala Dunia, maka sudah pasti pertandingan sepak bola. Saat ini, penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) sedang berlangsung di Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara.

Dari 10 kabupaten kota yang ada di Malut, terdapat dua daerah yang tidak membawa atlet sepak bola, salah satunya Kabupaten Kepulauan Sula. Kalau Pemda beralasan kekurangan anggaran, itu tidak cukup meyakinkan. Karena Taliabu yang APBD jauh lebih kecil dari Kepulauan Sula masih bisa mengikuti sepak bola.

Di daerah-daerah lain, setiap tahun hampir tidak pernah menggelar pertandingan sepak bola yang diberi nama Bupati Cup satu dua tiga dan empat. Pertanyaannya, untuk apa Pemda Kepulauan Sula melakukan pertandingan sepak bola Bupati Cup bergilir yang “didanai” oleh APBD, tapi tidak membawa tim sepak bola di Porprov?

Pada Rabu 10 Juni 2026, kurang lebih ribuan orang berkumpul di timbunan antara Desa Fatce dan Falahu, dengan menggunakan kendaraan masing-masing untuk melakukan pawai Piala Dunia. Mirisnya, para pejabat Pemda maupun anggota DPRD terlihat begitu bersemangat menjemput turnamen antar negara ini.

Kenapa kita tidak berkumpul di halaman Benteng De Verwachting Sanana dan di timbunan untuk membicarakan masalah status daerah paling tertinggal dan pemadam listrik serta melakukan protes kepada Pemda yang tidak membawa atlet sepak bola ke Porprov? Apakah tidak penting?

Lihat saja kegiatan Gabalil Hai Sua dan lomba poco-poco, masyarakat berbondong-bondong penuhi halaman benteng. Kemudian momentum Piala Dunia, timbunan jadi titik kumpul semua penggemar negara-negara luar yang akan berlaga hari ini.

Padahal, kalau dipikir-pikir menggunakan akal paling sehat, menyibukkan diri di momentum Piala Dunia dengan kondisi daerah seperti ini adalah kerugian paling besar, yang pertama mengeluarkan duit untuk membeli minyak, apalagi harga BBM saat ini naik tinggi.

Kemudian, jika dalam pawai atau konvoi, lalu terjadi kecelekaan, kita sendiri yang menanggung semua itu. Bukan Neymar, Messi dan Cristian yang membayar biaya pengobatan dan mengganti kerugian dalam kerusakan.

Jangan-jangan kita sebagai masyarakat merasa bangga dengan status daerah paling tertinggal? Atau ketika listrik padam, kemudian dengan modal mengeluh di Facebook, kita anggap pemerintah sudah dengar.

Sebenarnya, di Kepulauan Sula ini kalau mau jujur, daerah dengan ratusan masalah. Jembatan, jalan dan proyek bangunan terbengkalai yang dikerjakan pemerintah paling banyak ada di negeri ini.

Di Pulau Mangoli, jika tidak ada perlawanan dan keseriusan dari Pemda maupun DPRD, maka masyarakat akan menghadapi pertambangan. Selain tambang, saya rasa sebagian jalan dan jembatan di pulau ini sudah puluhan tahun tidak pernah teratasi. Bahkan ada desa yang sama sekali belum mendapat pelayanan listrik.

Sangat keliru apabila kita hanya lebih sibuk dengan Gabalil Hai Sua, lomba poco-poco dan Piala Dunia. Di akhir tulisan ini, saya menutup dengan kutipan salah satu penulis buku, yakni Boy Candra, “Di negara yang banyak masalah begini, kau masih sibuk dengan drama kehidupan selebriti, emang pada betah bodoh”.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Sosok

Dialog Tuhan