Foto

Messi dan Yamal kecil. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Seorang anak muda berambut gondrong mengenakan kaos putih yang lengannya digulung duduk di samping boks mandi berwarna biru muda. Ia dengan telaten dan sentuhan lembut memandikan bayi yang menggemaskan dengan mata berbinar. Botol sabun dan boneka bebek tergeletak dekat handuk. Ibu si bayi mengawasi sambil tersenyum. Di ruangan yang tak besar itu, sejarah sejatinya sedang dituliskan dengan penanda yang tak disadari.

Anak muda berambut gondrong itu adalah Lionel Andres Messi. Usianya baru 19 tahun. Ia sedang menapaki jejak sebagai salah satu legenda sepakbola di klub asal Catalan Spanyol – Barcelona. “Messi adalah orang yang sangat introver, dia masuk ke ruang ganti dan tiba-tiba harus berfoto dengan seorang bayi mungil. Bukan anak-anak tapi bayi yang masih kecil. Ekspresi wajah Messi langsung berubah seolah dia bingung mau berbuat apa”. Begitu cerita fotografer Joan Monfort yang mengambil foto itu.

Saya membayangkan Messi. Dia boleh sangat jago memainkan si kulit bundar tapi jelas bukan perkara mudah memandikan seorang bayi. Beruntung ada Ibu si bayi yang mengarahkan. Ada fotografer yang mengatur ini itu. Foto hanya “mewakili” realitas saat itu. Ia bisa menghadirkan kembali momen itu melintasi waktu dan jarak. Membentuk persepsi dan dunia percaya. Sebuah foto yang jadi bagian dari jurnalisme fotografi selalu membaur. Ia tak tunggal. Tak hanya produk fotografer, tapi ada tekhnologi dan juga mereka yang memandangnya.

Fotografer Denmark Mads Nissen yang memenangkan World Press Photo 2021 untuk karya humanis di tengah covid19 menyebut – “yang penting dalam fotografi, pada secercah momen kita bisa melihat gambar-gambarnya, kita merasakan bagaimana kiranya jadi orang lain itu”. Menjadi orang lain di sini selalu berkelindan dengan proses yang rumit dalam menerjemahkan data dari mata ke kesadaran yang dibentuk lewat bahasa.

Dan sebuah foto yang diambil di Camp Nou pada pertengahan 2007 pada akhirnya bukan sekadar “mewakili” – foto itu seperti putusan takdir yang menuntun jalan bayi mungil, bayi yang bahkan tak diketahui namanya itu ke persimpangan besar sejarah sepakbola dunia. Tak ada koneksi saat bayi mungil itu terpilih. Bermula saat surat kabar Sport dan UNICEF hendak membuat kalender amal yang menampilkan pemain Barcelona dengan bayi-bayi yang dipilih lewat undian. Keluarga Lamine Yamal mendaftar dan terpilih. Dan di antara begitu banyak pemain Barcelona, Tuhan yang memutuskan Yamal berfoto bersama Messi.

“Saya sama sekali tak tahu kalau bayi itu Lamine, sampai seorang teman memberitahu saya dua tahun lalu. Katanya Ayah Lamine telah mengunggah foto itu di Instagram”. Monfort pasti tak menyangka fotonya akan kembali viral saat keduanya – Messi dan Lamine Yamal bertemu sebagai rival di level tertinggi sepakbola dunia. Dan sejarah telah mencatat akhir dari era Messi yang akan diteruskan oleh bayi mungil yang Ia mandikan 19 tahun lalu.

Lamine Yamal Nasraoui Ebana lahir di Esplugues de Llobregat, pinggiran Barcelona pada 13 Juli 2007. Namanya bukan nama biasa. Ayahnya Munir Nasraoui berasal dari Maroko yang saat itu berusia 15 tahun bekerja serabutan sebagai tukang cat bangunan. Ibunya Sheila Ebana adalah perempuan muda berusia 16 tahun berasal dari Guinea Khatulistiwa. Lamine Yamal yang jadi nama di belakang jersey Barcelona dan Spanyol adalah nama dua orang tetangga yang digabungkan. Keduanya kerap membantu keluarga muda ini saat alami kesulitan dan membayar tagihan-tagihan yang datang setelah kelahiran Yamal. Ini sebuah penghormatan sebagaimana janji Munir. Sebuah ungkapan terima kasih yang pada akhirnya menjadikan Yamal tumbuh dengan kerendahan hati.

Lamine dalam bahasa Arab merujuk pada kebiasaan umum nama laki-laki yang berarti jujur dan dipercaya. Sedangkan Yamal berarti keindahan. Yamal tumbuh dan besar di Rocafonda, sebuah pemukiman kelas pekerja di Mataro, 32 kilometer sebelah utara Barcelona. Kawasan ini dibangun tahun 1960an untuk menampung para imigran. Saat berusia 5 tahun kedua orang tuanya bercerai. Ibunya yang sendirian membesarkan Yamal dengan upah sebagai pekerja makanan cepat saji di Granollers. Kehidupan sulit itu tak membuat dirinya putus asa. “Saya berasal dari sebuah apartemen dimana dapur dan kamar tidur adalah ruang yang sama. Saya melihat Ibu saya bahagia. Adik saya memiliki masa kecil yang seharusnya saya miliki dan itulah yang membuat saya bahagia”.

Kondisi keluarganya membuat Yamal tumbuh dengan integritas dan mental petarung. Ia juga diasuh oleh Fatima – nenek dari garis Ayah yang nekat menyeberang dari Maroko ke Spanyol dengan perahu pada tahun 1990 – hanya untuk memastikan Yamal hidup mandiri. Karakternya dibentuk. Tak boleh menyerah sesulit apapun hidup. Wajib menghormati orang lain. Suatu ketika Yamal berkata kepada Ibunya jika dirinya menjadi pesepakbola, maka tidak perlu ada kekhawatiran lagi di sisa hidup berikutnya. Sheila mendukung keinginan anaknya. Lewat koneksi di tempat kerja, Sheila bertemu dengan puteri koordinator pemuda di CF La Torreta. Ini klub pertama tempat Yamal berlatih.

Di usia 7 tahun Yamal bergabung dengan La Masia, Akademi sepakbola milik Barcelona. Ini akademi sepakbola kelas satu di Spanyol. Salah satu yang terbaik di dunia yang setiap tahun melahirkan pemain hebat. La Masia memberikan Puyol, Pique, Busquets, Xavi, Iniesta, Pedro dan Fabregas untuk jadi tulang punggung La Furia Roja saat juara Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Tahun ini mereka meneruskan tradisi hebat itu dengan mengirim Yamal, Pau Cubarsi, Dani Olmo, Gavi, Eric Garcia dan Marc Cucurella yang membawa Spanyol meraih bintang keduanya.

Yamal seangkatan dengan Cubarsi saat belajar di La Masia. Belajar passing kontrol yang jadi DNA sepakbola Barcelona dan juga Spanyol. Bermain rondo. Dan yang paling penting adalah memahami bahwa sepakbola adalah pengambilan keputusan. Di titik ini, Barcelona dan Spanyol harus berterima kasih pada Johan Cruijff. Kedatangan pelatih hebat asal Belanda ini mengubah visi dan gaya bermain Barcelona.

Cruijff mewariskan lima pondasi penting yang membentuk kehebatan Spanyol hari ini. Pertama : jika kamu memegang bola, lawan tidak memilikinya. Kedua : yang terpenting ritme bola. Di masa kini semakin banyak pemain berbakat secara fisik sehingga bola akan selalu lebih cepat bergerak dibanding pemain. Ketiga : harus memaksimalkan kualitas dasar. Umpan pendek harus presisi dan sederhana. Keempat : harus selalu menang duel satu lawan satu. Dan kelima : butuh profil pemain yang sangat tekhnis dengan IQ sepakbola yang tinggi. Cruijff menuntut bahwa itu harus datang dari anak-anak di akademi. Anak-anak yang belajar sejak mula di La Masia.

Yamal beruntung “bersekolah” dengan standard yang demikian tinggi. Lewat latihan-latihan intens di game-game lapangan kecil hingga pemahaman struktur bermain yang kompetitif. Ia dan Cubarsi mewakili Barcelona sejak usia muda. Bermain di festival sepak bola usia muda. Sebuah dokumen memberi bukti jika Yamal dan Cubarsi pernah bermain untuk Barcelona di sebuah festival di Thailand. Barcelona U-12 saat itu kalah dari Thailand. Entah dimana keberadaan pemain-pemain Thailand yang mengalahkan raksasa Catalan itu saat ini. Yang pasti Yamal dan Cubarsi terus berkembang. Cubarsi dua tahun lalu bermain untuk Spanyol di ajang Piala Dunia U-17 di Indonesia.

Yamal tak bisa dihentikan. Talenta sepakbolanya yang luar biasa membuat Barcelona menyodorkan kontrak profesional. Tanggal 29 April 2023, di usia 15 tahun 9 bulan 16 hari, Ia melakukan debut yang fenomenal di La Liga saat Barcelona melawan Real Betis. Yamal dipercaya pelatih Xavi Hernandez masuk di menit ke 83 menggantikan Gavi. Ia jadi pemain termuda Barcelona yang bermain di kompetisi resmi.

Setelah itu, karir sepakbolanya jadi milik sejarah dunia. Juara bersama Barcelona. Terus menemukan ruang untuk berkembang dengan kualitas yang meningkat dan seturut itu, pintu Tim Nasional terbuka dengan sendirinya. Tanggal 8 September 2023, Yamal memulai debut saat Spanyol melawat ke Georgia memainkan laga kualifikasi grup A Euro 2024 melawan tuan rumah. Di stadion Boris Paichadze, Tbilisi, Yamal yang masuk menggantikan Dani Olmo di menit 44 mencetak sejarah sebagai pemain paling muda yang bermain untuk Spanyol di usia 16 tahun 57 hari. Rekor hebat ini disempurnakan dengan golnya pada menit 74. Menjadikan dirinya sebagai pemain termuda yang bikin gol untuk Tim Nasional.

Spanyol lolos ke Piala Eropa 2024 di Jerman. Mereka jadi salah satu unggulan dari 24 negara partisipan. Dan rekor demi rekor terus menempel di kaki Yamal saat Ia berlari dan menari bersama bola. Di Jerman, Yamal membawa Spanyol jadi juara. Ia jadi pemain kunci di 7 laga sejak penyisihan grup sampai final. Ia bikin satu gol saat mengalahkan Prancis di semifinal dan mencatat 4 assist – terbanyak di turnamen itu. Dengan waktu bermain sebanyak 507 menit, Yamal melakukan 32 dribel sukses – terbanyak sepanjang gelaran Euro 2024, akurasi operan 80 persen dan berlari cepat sekitar 33,3 km per jam.

Berkat penampilan terbaiknya itu, Yamal terpilih sebagai pemain muda terbaik di Jerman 2024. Ia jadi pemain paling muda yang jadi juara Euro, pemain paling muda yang bikin gol dan pemain paling muda yang bikin asisst terbanyak di kompetisi tertinggi benua biru. Berapa usianya? 16 tahun 339 hari. Usia segini di sepakbola Indonesia baru bermain di Piala Soeratin yang timbul tenggelam kualitasnya. Atau sibuk bermain di pekan olahraga pelajar yang meriah di level lokal tapi tak jelas muara pembinaannya di jenjang nasional.

Selepas Euro 2024, Yamal kembali ke Barcelona. Berlatih dan bermain seperti biasa. Ia makin diingat. Jadi properti paling panas. Fotonya saat dimandikan Messi kembali beredar. Orang ramai mulai membandingkan dirinya dengan Messi. Para jurnalis berburu tanya. Siapa idolanya? Apakah Ia jadi Messi baru atau penerus Mbappe dan Neymar. Yamal tidak memilih. Ia tak mau mengikuti jejak Bojan Krkic – seniornya di Barcelona yang sempat dijuluki Messi Baru namun redup lebih awal atau banyak pemain lain yang digiring sebagai duplikat pemain bintang. “Saya tak ingin menjadi Messi Baru, Mbappe Baru atau Neymar Baru. Saya ingin membuat jalur sendiri dan menempatkan nama Lamine Yamal sejajar dengan nama mereka”.

Ini bukan tentang ambisi buta yang tanpa arah. Sikap Yamal memberi arah karir yang akan diperjuangkan. Ia siap bersaing jadi yang terbaik. Di usia demikian muda, Yamal tak hanya mempertontonkan bakat kelas dunia tapi juga kerendahan hati, rasa hormat dan karakter yang luar biasa. Ia tak lupa dari mana datang. Setiap tantangan disambut dengan senyum. Dalam sebuah sesi wawancara, ada pertanyaan tentang bagaimana Ia mengelola tekanan di level seperti ini? Yamal menjawab dengan hati “Ibu saya melahirkan saya saat berusia 16 tahun. Itulah tekanan yang sebenarnya. Ayah saya harus berjuang mencari nafkah, mengumpulkan barang-barang di jalanan agar bisa membawa pulang makanan untuk keluarga. Itulah tekanan yang sebenarnya. Yang harus saya lakukan adalah bermain sepakbola dan membuat orang-orang Spanyol bahagia”.

Pelatih Spanyol Luis De La Fuente mengakui jika Yamal kian matang. Ia berusia muda tapi bervisi masa depan dan terus memainkan sepakbola yang berbeda. Yamal sering mengorbankan dirinya untuk kepentingan kolektif. Menurut saya, salah satu “kelebihan” Yamal yang jadi kekuatan terbesarnya adalah warisan nilai dan dukungan keluarga. Ini bukan tentang bakat semata tapi keberanian untuk memulai dan konsisten berjuang saat orang lain memilih berhenti. Disiplinnya mengalahkan alasan.Ia tetap berlatih saat dunia sudah ada dalam genggamannya.

Sebelum Piala Dunia dimulai, Yamal terus membuat catatan-catatan yang bikin orang akan menatapnya dengan kagum. Ia jadi pemain terbaik di La Liga musim 2025-2026 bersama Barcelona. Mencetak 25 gol dan 21 assist. Juara Liga dan Supercopa. Ia datang ke Amerika dengan level permainan yang berbeda. Mentalitasnya benar-benar terasah. Konektivitas dengan sesama Barcelona jadi senjata rahasia Spanyol. Mereka jadi unggulan tapi tak terlalu diendorse algortima. Orang ramai lebih sibuk bicara tentang peluang Prancis, Inggris, Belanda, Brasil dan Argentina.

Kita tahu jalan Spanyol tak mudah. Mereka membuat dunia terkejut saat ditahan imbang Tanjung Verde. Mereka lakukan evaluasi dan perbaikan. Perlahan membaik meski tetap dipandang sebelah mata. Spanyol melaju tanpa kontroversi. Menghadapi lawan yang makin kuat di tiap babak justru memicu DNA juara mereka. Spanyol belajar dari Uruguay, Portugal, Belgia dan akhirnya menyingkirkan Prancis. Level terbaik mereka ditunjukkan saat semifinal. Orang ramai mulai yakin Spanyol jadi kandidat serius untuk juara saat berhadapan dengan Argentina.

Dan kita tahu apa yang terjadi di New York New Jersey saat laga final berlangsung. Spanyol bermain sangat dominan. Kontrol passing mereka membunuh Argentina. Recovery ball mereka mencatat waktu tercepat yakni 10 detik. Semua lini dikuasai. Mereka melakukan 743 umpan sukses selama laga. Menciptakan 21 peluang bikin gol dengan 10 di antaranya tepat sasaran. Spanyol tak bisa dihentikan seolah mereka bermain sendirian.

Rodri dkk mendikte tempo, mengendalikan irama dan memaksa Argentina bermain sesuai maunya mereka. Mereka melelahkan lawan secara mental dan fisik. Terus menekan dan mengurung Argentina. Sebab itu, Lionel Messi dkk gagal memgimbangi. Gagal mencetak satupun peluang gol ke gawang Unai Simon. Dan Yamal ada dalam atraksi itu. Berkali-kali menggiring bola, menusuk, mengancam dan memaksa para bek lawan bekerja lebih keras. Spanyol pada akhirnya jadi juara. Gol Ferran Torres menghukum Argentina yang tak bermain bagus.

Yamal bikin stastik hebat selama turnamen. Ia bermain di semua laga Spanyol. 8 laga selama 616 menit. mencetak 1 gol, melepas 17 tembakan ke arah gawang lawan, menciptakan 6 peluang dan akurasi umpannya mencapai 87 persen dengan 223 umpan sukses. Di usia 19 tahun, Yamal jadi pemain termuda yang mengangkat trophy Piala Dunia. Hanya kalah dari Pele yang juara saat berusia 17 tahun. Itupun sudah lebih dari 70 tahun lalu. Bayangkan seorang pemain muda sudah juara Eropa dan juara dunia.

Sukses Yamal bersama Spanyol juga mengakhiri era kebesaran Messi. Di Barcelona – Messi adalah legenda masa lalu. Yamal sedang mengikuti jejaknya berjalan ke arah legenda Catalan itu. Di level dunia, dengan mayoritas pemain muda di skuad La Furia Roja saat ini dan di usia yang baru 19 tahun – rasanya nama Lamine Yamal akan terus dibincangkan untuk waktu yang lama. Saya kutip pernyataan Messi sesaat setelah partai final yang melahirkan bintang baru ini – “Aku tak meninggalkan lapangan hanya dengan memikirkan kekalahan. Aku juga pergi dengan ketenangan hati karena tahu bahwa sepakbola berada di tangan yang tepat. Melihat Lamine tumbuh dari bayi dalam foto spesial itu hingga menjadi salah satu bintang sepakbola dunia saat ini membuatku bangga”.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini