Kegagalan Mahasiswa Membaca Buku karena Faktor Teknologi

Asrul Umarama. Foto: Istimewa

Oleh : Asrul Umarama

(HMI Komisariat FISIP) 

 

Sejak masuknya tahun 2025 mahasiswa dari berbagai penjuru mendaftarkan diri untuk menempuh ilmu pengetahuan di universitas yang berada di Maluku Utara. Mahasiswa masih eksis menjalankan aktifitas mereka sebagai mahasiswa. Sekarang banyak anak muda, datang hanya untuk kuliah, dan para dosen pun mulai mambuat peraturan yang dimana mahasiswa harus mengikuti peraturan yang dibuat secara bersama.

Dunia kampus adalah, tempat dimana mahasiswa untuk belajar mengetahui hal-hal penting yang belum pernah mereka dapatkan di bangku SD, SMP, dan SMA, dengan mendapat orang-orang atau teman-teman yang berbeda tempat. Keasikan kampus bagaimana bertemu dengan orang baru, dan belajar hal baru, faktanya lagi mencari jati diri.

Karena, perguruan tinggi banyak macam-macam hal yang belum parnah mahasiswa dapatkan. Di perguruan tinggila, mahasiswa mulai mengasah otak untuk bisa menganilisis masalah, dan cara pandang merekapun mulai berubah.

Sementara mahasiswa tidak mengetahui bahwa masuk di perguruan tinggi harus mengetahui, dan bisa menganilisis merupakan hal-hal yang terjadi di lingkungan kampus maupun luar kampus. Akan tetapi, kebanyakan mahasiswa tidak bisa menganalisis hal itu, karena mereka tak pernah melihat halaman buku dalam artian (membaca), ini menjadi satu kegagalan bagi mahasiswa jaman sekarang. Mereka hanya jadikan nama atau lebel  sebagai mahasiswa, tapi kesadaran  tak pernah ada bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah salah satu beban yang paling berat.

Buku tak lagi jadi pajangan untuk dibaca, tapi buku adalah satu pedoman bagi mereka, yang bahkan tidak pernah ada ketertarikan untuk membaca buku. Karena mereka tidak pernah mendapatkan literasi membaca yang akan memperkuat imajinasi mereka. Kelebihan dan kepandaian mahasiswa jaman sekarang berada, hanya saja teknologi yang menjadi panutan pertama mahasiswa saat ini ketimbang membaca buku dan ber-imajinasi. Anilisis, mahasiswa hanya mengandalkan teknologi, inilah kegagalan berpikir mahasiswa jaman sekarang, seakan-akan otak yang dimiliki mereka berpikir hanyalah teknologi.

Masalahnya mahasiswa tidak pernah membangun literasi untuk belajar seperti membaca, berdiskudi. Ini yang menjadi kesalahan mahasiswa sekarang. Ironisnya mahasiswa di jamban sekarang tak lagi punya kesadaran, bahwa mereka tidak pernah melihat apakah mereka dipermainkan atau tidak. Pernahkah mahasiswa memikirkan untuk membaca buku, bahwa salah satu menambah kosa kata, pengetahuan, yang bisa digunakan dimana saja.

Buku bukan kertas yang tidak berguna, tapi buku bisa membantu mahasiswa untuk bisa menganalisis sesuatu, dan bisa pada akhir kuliah nanti, karena untuk memiliki skil harus banyak membaca agar biasa menganilisis bantuan proposal dan skripsi. Sebab cara menulis proposal itu memakai pikiran sendiri; sementara mahasiswa sekarang mereka hanya mengandalkan teknologi, bukan mengandalkan pikiran. Inilah masalah yang selalu tidak pernah dijalankan oleh mahasiswa, karena bagi mereka  buku adalah salah satu hambatan bagi diri mereka, dan di satu sisi mahasiswa merasa membaca buku salah satu beban dalam diri.

Hal ini tentu menjadi sangat memprihatinkan karena buku adalah jendela ilmu apabila sumber daya manusia dalam suatu negara kekurangan minat baca, maka pengetahuannya juga akan berkurang karena untuk menumbuhkan minat baca haruslah dimulai dari sejak dini agar kebiasaan membaca dapat menjadi kebiasaan yang menyenangkan bukan menjadi kebiasaan yang melelahkan.

Rendahnya minat baca pada mahasiswa merupakan salah satu masalah dalam pengelolaan sumber daya manusia. Penyebabnya karena pelayanan fasilitas yang kurangmendukung dan kurangnya motivasi dari diri sendiri untuk membaca yang mengakibatkan mahasiswa kurangnya wawasan atau ilmu pengetahuan. Faktor penyebab rendahnya minat membaca mahasiswa karena saat ini semuanya serba instan, banyak ilmu pengetahuan yang bisa diakses melalui internet yang memudahkan penggunaan gadget mencari apa saja bahan bacaan yang diinginkan.

Namun hal ini tidaklah efektif karena membaca buku secara langsung berbeda dengan membaca buku melalui gadget, karena saat membaca buku kita lebih fokus dengan apa yang kita baca, sedangkan membaca buku melalui gadget dapat merusak fungsi mata dan fokus kita saat membaca juga kurang karena mata kita yang terfokus ke layar yang membuat mata kadang terasa perih akibat terlalu lama menatap layar.

Gadget adalah sebuah kebutuhan primer di masyarakat tak terkecuali pada mahasiswa yang melekat tidak dapat lepas dan sudah menjadi sebuah kebutuhan, lebih lanjut Derry(2014:7) “menyatakan gadget merupakan sebuah perangkat elektronik yang memiliki tujuan dan fungsi praktis untuk membantu pekerjaan manusiafungsi praktis yang dimiliki gadget benar dapat memudahkan seluruh aktivitas manusia, tetapi juga akan berpengaruh terhadap kondisi social dan lingkungan sekitarnya.

Mahasiswa merupakan SDM yang sangat berharga bagi bangsa, mahasiswa dapat memberikan harapan-harapan untuk membuat inovasi dan ide-ide baru dalam dunia pendidikan, informasi maupun dalam segala bidang, dapat membawa perubahan karena SDM nya banyak. Menurut Sarwono “mahasiswa adalah setiap orang yang secara terdaftar mengikuti pelajaran di sebuah perguruan tinggimahasiwa diidentikka dengan seorang yang berpendidikan yang memiliki moral yang baik dan pengetahuan yang luas, namun itu tergantung dari diri dalam setiap orang yang dapat mengatur hidupnya sendiri.

Jika sedari kecil tidak mendapat pendidikan yang baik, mungkin saja hanya gelar yang akan didapat bukan ilmu dan pengetahuan. Indonesia merupakan negara yang masih dalam perkembangan atau negara berkembang, dari sejak merdeka bisa dikatakan negara ini masih miskin, sehingga pendidikan sulit untuk didapatkan oleh semua orang, itulah yang menjadi alasan masyarakat kita tidak memiliki pengetahuan tentang budaya membaca, begitupun hingga saat ini ketika sarana dan prasarana untuk membaca dapat dengan mudah didapatkan, misalnya dengan buku elektronik atau ebook maupun bukukonvesional minat baca generasi saat ini tetap saja belum ada peningkatan.

Banyak mahasiswa, kaum muda di negara ini masih belum sadar pentingnya membaca dan masih dalam proses pendewasaan pada taraf hidupnya dari segi pendidikan, ekonomi, pengetahuan dan informasi juga masih beradaptasi dengan budaya, tradisi yang ada di negara ini sehingga pada saat teknologi hadir dengan segala kenyamanannya, sementara mahasiswa belum mampu untuk memilah dan memahami, serta mengimbangi pengetahuan yang sedang mencakup semua bidang.

Pengaruh sosial media pun menjadi hal yang mempengaruhi minat baca karena kebiasaan mengakses media sosial, tentunya akan membuat para mahasiswa menjadi malas untuk melakukan suatu kegiatan yang tidak praktis, misalnya membaca buku. Untuk meningkatkan minat membaca mahasiswa harus bisa memaksakan dirinya untuk mulai membaca, karena sebagai seorang mahasiswa harus memiliki literatur yang baik apabila sudah terbiasa membaca, maka akan sulit meninggalkan kebiasaan tersebut.

Cara yang lain untuk menumbuhkan minat baca yaitu berkumpul dengan sesama yang hobi membaca, cara ini sangat berpengaruh untuk meningkatkan minat baca, karena dengan memiliki banyak teman yang hobi membaca otomatis kita yang awalnya malas membaca akan terbiasa karena lingkungan juga mempengaruhi hal ini.

Untuk menumbuhkan budaya literasi dan minat baca mahasiswa dan masyarakat secara luas dilakukan dengan cara menanamkan budaya gemar membaca sejak dini, menciptakan lingkungan kampus yang ramah buku, melaksanakan program-program literasi ke dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta aktif melakukan kolaborasi inovasi yang berhubungan dengan literasi.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Sosok

Dialog Tuhan