Meksiko vs Inggris: Melawan Kutukan
Oleh; Asghar Saleh
Anda tahu Azteca? Ini stadion paling keramat dengan sejarah sangat panjang. Dibangun 1966 dengan arsitek Pedro Ramirez Vazquez, stadion ini berada di ketinggian 2245 mdpl. Yang tinggal di Ternate besok pagi sebelum laga Meksiko vs Inggris – anda boleh keluar rumah sebentar. Arahkan pandangan ke bagian barat. Lihat Gamalama. Gunung ini tingginya 1715 mdpl.
Bayangkan posisi Azteca itu masih 500 mdpl lagi dari puncak Gamalama. Bermain di antara awan, kawan. Dan ini kuburan untuk tim manapun yang tak terbiasa bermain di ketinggian dengan udara tipis. Karena itu, FIFA mengijinkan Inggris mengkonsumsi viagra. Tujuannya untuk memperlebar pembuluh darah. Sirkulasi oksigen yang stabil membantu daya tahan pemain. Mengurangi altitude sicknes.
Azteca juga melahirkan banyak legenda. Dengan kapasitas 100.000 tempat duduk, stadion ini adalah satu-satunya di dunia yang jadi venue tiga Piala Dunia. Tahun 1970, 1986 dan kini 2026. Di tahun 1970, salah satu GOAT lahir di sini. Pele membawa Brazil juara Piala Dunia untuk ketiga kalinya.
Stadion ini juga pernah jadi “kuburan” bagi Inggris. Dalam laga 8 besar Piala Dunia 1986, Maradona mencetak dua gol dengan sisi berbeda. Gol pertama menggunakan tangan menipu wasit dan jutaan penonton televisi. Masa itu VAR belum ada. Orang ramai baru sadar setelah menonton tayangan ulang.
Lalu Maradona kembali bikin sihir. Di babak kedua, Ia meliuk melewati enam pemain sebelum menceploskan bola ke gawang yang kosong. Gol yang ditetapkan sebagai gol terbaik di Piala Dunia. Di final, Argentina mengalahkan Jerman Barat dengan skor 3-2. Azteca melahirkan GOAT kedua. Diego Armando Maradona nama lengkapnya.
Itulah mengapa ulasan laga ini saya awali dengan venue di dataran tinggi. Azteca bukan lapangan biasa. Dengan waktu jeda yang terbilang pendek dan harus berpindah negara, Inggris butuh penyesuaian di luar aspek tekhnis. Mereka juga akan “ditekan” 90 ribu penonton yang berekspektasi “Mexico Wave” bukan sekadar tarian biasa.
Secara materi, Meksiko kali ini punya skuad merata. Mereka tak bermain dengan bintang besar seperti Hugo Sanchez, Rafael Marquez atau Giovani dos Santos. Mantan pemain nasional yang kini melatih “Tri Color” – Javier Aquirra lebih memilih kolektifitas. Game plannya dibangun dengan struktur penguasa bola yang kuat. Transisi cepat jadi senjata utama.
Meksiko jadi satu-satunya tim yang belum kebobolan. Nirgol di empat laga. Mereka bikin 8 gol. Dicetak oleh pemain dari berbagai posisi. Aquirra sepertinya akan tetap memainkan sebelas pertama yang sama dengan laga-laga sebelumnya sesuai skema 4-3-3.
Raul Rangel tetap jadi pilihan pertama di bawah mistar gawang. Empat bek sejajar dihuni oleh kuartet Jorge Sanchez, Cesar Montes, Johan Vazquez dan Jesus Gallardo. Di tengah, Erik Lira akan jadi defensive midfielder untuk mendukung kreatifitas Alvaro Fidalgo dan Luis Romo. Ada opsi untuk memainkan remaja 17 tahun, Gilberto Amor.
Di lini serang, trio Roberto Alvarado, Raul Jiminez dan Julian Quinones akan jadi pilihan seperti biasa. Jiminez adalah target man yang sudah bikin dua gol. Ia sedang mengejar rekor gol terbanyak legenda hidup “El Tri” lainnya Javier “Chicarito” Hernandez.
Aquirre wajib menjaga stabilitas timnya. Menghadapi kualitas Inggris yang sedikit di atas level mereka, kemauan untuk menang yang akan jadi pendorong utama. Pemain butuh kepercayaan diri. Saatnya bikin sejarah di hadapan pendukung sendiri.
Bagaimana dengan Inggris? Harry Kane masih jadi senjata utama. Bomber utama “Tiga Singa” ini sudah bikin 5 gol. Finishingnya terbilang mengerikan. Ia adalah kapten yang menggerakkan komando pasukannya dengan keberanian.
Thomas Tuchel akan memainkan Antoni Gordon dan Marcus Rashford sejak awal untuk mendukung Kane. Mengapa bukan Noni Madueke? Menurut saya dengan sisi flank kanan yang “lemah” karena ketiadaan Recce James di full back, Madueke akan menjadi beban. Ia tak pernah bergerak menutup ruang kosong yang ditinggal Djed Spence.
Ini salah satu “blank spot” Inggris yang akan dieksploitasi Quinones. Apalagi Declan Rice berada dalam kondisi yang tidak terlalu bugar. Rice dan Elliot Anderson akan jadi pivot kembar. Tugas mereka mengamankan area tengah sambil mendukung sisi ofensif Jude Bellingham.
Bellingham akan jadi opsi paling ditunggu Inggris untuk bikin gol terutama saat Kane
dimatikan. Gordon dan Rashford diminta lebih banyak lakukan crossing. Tentu dengan opsi cutting inside untuk membongkar pertahanan Maksiko.
Di zona pertahanan, Marc Guehi dan Ezri Konsa lebih butuh ketenangan. Di bek kiri, Nico O’ Really juga kudu menjaga keseimbangan. Benar Inggris sudah membuat 8 gol – 5 di antaranya sumbangan dari Kane – tapi mereka juga kebobolan 3 gol dari open play.
Laga berebut tempat di 8 Besar ini menurut saya akan berlangsung terbuka. Head to head antar lini dengan tensi tinggi. Inggris punya materi lebih baik tapi sejauh ini belum menemukan formasi ideal. Di laga sebelumnya, Tuchel selalu melakukan pergantian pemain untuk manambah tekanan ke lawan.
Sementara Meksiko nyaris tanpa pergeseran yang fundamental. Karena itu, jika tak hati-hati, Inggris berpotensi kalah. Meksiko terakhir kalah di Azteca September 2013 dari Amerika Serikat 2-0. Di ajang Piala Dunia, Meksiko bahkan belum pernah kalah tiap kali main di sini. Sejarah kelam Azteca bisa saja terulang untuk Inggris.***


Tinggalkan Balasan