Ruang Pengakuan dan Harga Diri

Sarfan Tidore. Foto: Istimewa

Oleh: Sarfan Tidore

(Pegiat Pilas) 


Kehidupan
modern yang tampak berkawan setia dengan pertarungan ketat secara ekonomitak luput dari perilaku saling sikut, persaingan dan hampir semua orang mengukir kisah heroik tentang perjuangan. Di tengah kemajuan yang pesat saat ini, prestise, status sosial, kemapanan, keberhasilan, kehebatan membutuhkan apa yang disebut pengakuan sosial dan pujian.  

Di tengah perlombaan ini kita perlu memikirkan dan berbicara tentang satu hal yang jauh lebih mendalam. Bagaimana kita menjaga harga diri ketika tidak lagi disaksikan oleh siapapunKita yang sekian lama bekerja keras, membanting-tulang dan dalam waktu begitu lama pun tidak membawa hasil apapun. Sehingga kerap dianggap miskinnyaris tak dianggap dan bahkan dikhianati.

Namun kesendirian di tengah-tengah hiruk-pikuk perkotaan di mana semua orang kejar prestise dan kemapanan justru menjadi ruang di mana kehormatan, harga diri tidak perlu dibuktikanTidak butuh penonton, tepuk tangan dan pujian. Yang ada hanya tubuh yang penyabar, ingatan masa lalu, masa depan yang masih misteri dan tetap setia pada moralitas sebagai anugrah.

Di kehidupan ini kita tidak harus berjuang untuk mengalahkan orang lain. Melainkan tidak mengkhianati diri sendiri. Perjuangan panjang bukan soal kemenangan material. Ketika kemenangan direnggut oleh kehidupan yang saling sikut dan kita pulang hanya dengan tangan kosong. Secara teknis disebut kalah.

Namun yang perlu diingat adalah kekalahan tidak meruntuhka nmartabat dan harga diri. Harga diri kita tidak bergantung pada hasil, melainkan pada cara bertahan, pada kesediaan menanggung luka tanpa mengeluh, tanpa merasa perlu disaksikan. Ia tumbuh dalam kesendirian tanpa melo drama. Tidak perlu ratapan panjang, kesedihan, belas kasih dan tidak perlu pembenaran.

Dalam buku The Old Man And the Sea (Lelaki Tua dan Laut), karya Ernest Hemingway (1973) menjelaskan, kesunyian menegaskan harga diri sejati tidak selalu tumbuh di ranah pengakuan sosial. Harga diri tumbuh ketika dalam pertarungan panjang kita tidak membuahkan hasil, tetapi tetap bekerja dengan seriusbahkan saat dunia berhenti memberi imbalan.

Dalam dunia yang gemar mengukur nilai seseorang lewat keberhasilan yang terlihat, kita perlu menawarkan sikap yang berlawanan. Bahwa harga diri tidak selalu lahir dan tumbuh daribkemenangan. Kadang ia bertahan justru pada saat kita terus berusaha, membanting tulang meskipun tidak berhasil. Komitmen pada berusaha bukan untuk meraih keberhasilan, tetapi membuat kita terus bertahan, kecewa, menderita, dan begitu seterusnya. Sebuah siklus hidup yang terus mengalir dan berulang.

Tahun 1942, Albert Camus membuat sebuah karya esai berjudul, Le Mythe de Sisyphe (Mistis Sisifus). Camus menggambarkan pemikiran absurditas tentang hidup manusia yang tidak bermakna dalam kisah sisifus. Sisifus adalah seorang raja, ia jahat, kejam dan zalim selama hidupnya di dunia. Dia berani menentang para Dewa, dan puncaknya ketika ia membocorkan rahasia Dewa Zeus.

Mengetahui Sisifus yang sangat kejam dan melampaui batasnya sebagai manusia, Dewa Zeus lantas melemparnya ke neraka sebagai bentuk hukuman. Ketika di neraka Sisifus merindukan dunia, lantas ia meminta izin kepada Dewa Zeus untuk singgake dunia dan berjanji akan kembali ke neraka. Namun ketika ia melihat kembali wajah dunia ini, menikmati air dan matahari, bebatuan yang hangat dan lautan, ia tidak mau kembali kepada kegelapan neraka, tulis Camus.

Sisifus mengingkari janji, memberontak dan berbohong. Lantas Dewa Zeus semakin marah dan menghukumnya dengan cara lain. Sisifus harus mendorong sebuah batu ke atas puncak gunung, dan ketika sampai ke puncak gunung, batu tersebut akan kembali menggelinding ke bawah, dan kejadian yang sama akan terus terulang tanpa henti.

Kita mungkin melihat usaha Sisifus adalah sebuah kedunguan. Menerima takdir begitu saja, mengulang kejadian dan proses yang sama. Di sini Camus mencoba meyakinkan kita, bahwa Sisifus tetap bahagia, mengisi kekosongan hatinya dengan perjalanan menuju puncak gunung dalam kesendirian nan sunyi. Sisifus bahagia menerima kehidupannya yang absurd dan perjuangan tidak terhingga. Ia memilih berkawan dengan absurditas hidupnya dan tidak melawan atau menyerah pada penderitaan, tetapi justru menikmatinya.  

Dari kisah Lelaki Tua dan Laut maupun Sisifus kita dapat memaknai kehidupan, bahwa kita tidak harus berjuang untuk mengalahkan orang lain. Melainkan tidak mengkhianati diri sendiri. Perjuangan panjang bukan soal kemenangan. Tetapi tidak kehilangan rasa hormat, rasa hargai pada diri sendiri. Ia tidak butuh pengakuan sosial dan pujian. Justru dalam kesunyianlah harga diri sejati tumbuh, kejujuran, kemampuan, mendapat pengakuan dan dapat bertahan. Soal pengakuan kita serahkan pada sejarah dan peradaban.

Pengakuan, kebahagian tidak perlu di cari dalam ruang sosialKebahagiaan pada manusia itu sendiri, semakin dicari maka kehidupan akan semakin absurd, aneh, sia-sia dan kecewa. Pengalaman justru mengajak kita untuk berteman dengan realitas. Apapun bentuknya, kehidupan tetap harus dijalani dan dinikmati.

Satu-satunya kepastian adalah bahwa dunia merupakan tempatyang hanya diisi oleh ketidakpastian, tulis Albert Camus. Hariesok tidak pernah memberi jawaban tentang apa yang akan terjadi dan kenyataan tidak akan menawarkan penjelasan. Seperti misalnya saat ini kita sedang berusaha keras dengan harapan memperoleh hasil maksimal, memperluas hubungan pertemanan dan membantu orang lain. Tetapi di masa depan hasilnya kerapkali mengecewakan.

Yang diperlukan adalah berkawan dengan absurditas, kesendirian, kesunyian, menikmati hidup, kemampuan bertahan dan tidak berharap pada manusia. Sebab, berharap pada manusia itu seni terbaik menaruh luka. Dalam buku The Heart of Man, Kegeniusan Hati Manusia Untuk Kebaikan dan Kejahatan, karya Erich Fromm (2019), menjelaskan manusia memiliki watak nekrofilia, narsisme, simbiosis intensitas, dan ketiga hal itu akan membentuk apa yang disebut sindrom peluruhan.

Sindrom peluruhan adalah kecenderungan karakter manusia dalam mengkhianati kehidupan harmonis, kemampuan diri, pertumbuhan, kemajuan dan mencintai kerusakan atau kematian”. Menurut Fromm, manusia modern cenderung mengabaikan sindrom pertumbuhan, lawan dari peluruhan.

Sindrom pertumbuhan dalam bukunya, The Art of Loving, Memaknai Hakekat Cinta (Fromm, 2025) menjelaskan jawaban waras untuk mengatasi sindrom peluruhan dan memuaskan masalah eksistensi manusia adalah melalui seni mencintai. Cinta diartikan sebagai kemampuan mencintai semua aspek kehidupan, bukan cinta romantis pada sebuah objek.

Cinta terutama bukan soal hubungan tertentu dengan seseorangindividu, cinta adalah sikap, suatu orientasi karakter, kemampuan mengembangkan kualitas diri, yang menentukan keterhubungan seseorang dengan dunia secara keseluruhan. Seni mencintai bukan tentang bagaimana dunia memberi imbalan.

Tetapi lebih pada harga diri, kapasitas mencintai kehidupan, keadilan, kejujuran, tumbuh di ruang sunyi tanpa memerlukan pengakuan sosial. Mencintai adalah kapasitasmemberisegala kemampuan untuk kehidupan melalui kedisiplinan dan konsentrasi. Akhirnya syarat untuk memenuhi seni mencintai adalah perhatian, rasa peduli dan tanggung jawab pada diri sendiri serta kehidupan yang terus mengalami tunggang langgang.***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini