Spanyol vs Argentina: Waspadai Umpan Silang

Yamal dan Messi. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Pertemuan Spanyol vs Argentina di final Piala Dunia 2026 jadi final ideal yang berkelindan dengan sejarah, reputasi, pemain bintang, pelatih hebat dan gol-gol fantastik. Tapi di rumput New York New Jersey Stadium Senin dinihari, semua itu hanya deretan nama dan angka. Sejarah dan reputasi tak membantu sebuah tim untuk menang. Pemain, pelatih dan gol-gol itu hanya statistik yang lewat. Yang jadi juara adalah mereka yang memiliki hasrat melampaui algoritma. Yang berkeinginan untuk menang. Yang mau bertarung untuk memberi bukti.

Spanyol punya rekor hebat belum pernah kalah. Tapi perjuangan mereka tak mudah. Jalannya mirip roller coaster. Juara Eropa 2024 ini kaget saat ditahan imbang Tanjung Verde. Mendominasi Arab Saudi, menang tipis atas Uruguay, unggul atas Austria, pulangkan Portugal lewat gol di menit-menit akhir dan menghentikan Belgia karena blunder kiper cadangan lawan. Hanya di semifinal, Spanyol tampil meyakinkan saat mengalahkan Perancis.

Argentina juga sama. Meski mencatat 100 persen kemenangan sejak fase grup, langkah Albiceleste bikin fansnya jantungan. Nyaman di fase grup dengan tiga kemenangan mudah atas Aljazair, Austria dan Jordania – perjuangan Argentina terasa berat saat mengalahkan Tanjung Verde, Mesir dan Swiss. Terkahir Inggris yang benar-benar menguras semua energi di semifinal lewat kemenangan tipis di masa injury time.

Ada dua tim yang secara kebetulan bertemu keduanya. Tanjung Verde dan Austria. Sebelum menulis ini, saya menonton ulang pertandingan mereka. Mencoba menganalisa level permainan dan mengkomparasinya dengan statistik serta kebiasaan taktikal Lionel Scaloni maupun Luis De La Fuente. Butuh data. Tanpa data yang dianalisa secara adil maka sebuah ulasan hanya akan jadi omong kosong yang bias dan ikut menyebarkan kebencian.

Di laga lawan Tanjung Verde, Spanyol bermain imbang tanpa gol sementara Argentina menang 3-2 lewat gol bunuh diri di babak perpanjangan waktu. Saat melawan Austria, brace Messi memastikan mereka menang 2-0. Sedangkan Spanyol memulangkan David Alaba dkk di babak knock out lewat dua gol Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro.

Kita mulai dari Spanyol. Saat lawan Tanjung Verde maupun Austria, mereka benar-benar mendominasi. Penguasaan bola, umpan kunci dan jumlah passing. Tapi Spanyol kesulitan saat menghadapi tim yang bermain low block dengan kombinasi man to man marking. Tanjung Verde sabar menunggu. Spanyol hanya bikin 7 shoot on goal dan tak ada gol. Berbeda dengan Austria yang bermain terbuka. Lamine Yamal dkk bikin 10 shoot on goal – 3 di antaranya jadi gol.

Bagaimana dengan Argentina? Mereka mendominasi Austria di babak grup. Semua lini dikuasai Argentina. Tapi ketika menghadapi Tanjung Verde – wajah tim debutan ini berbeda. Tanjung Verde bermain terbuka. Selalu menutup ruang dan cepat merebut bola. Kombinasi serangan balik lewat sayap jadi senjata. Meski pada akhirnya Argentina menang tapi Tanjung Verde bikin 5 ancaman shoot on target dengan dua kali sukses menjebol gawang Dibu. Berbanding 10 shoot on goal Tango. Ada akurasi dan produktivitas gol. Tapi ada sisi rentan yang terekspos dari dua lawan yang berbeda ini.

Di laga-laga sebelumnya, Spanyol konsisten bermain dengan DNA mereka. Tak peduli game plan dari lawan. La Furia Roja punya identitas passing – kontrol. Optimalisasi ruang kosong jadi senjata. Kalau anda perhatikan terutama saat lawan Perancis – menurut saya ini level terbaik Spanyol – setiap kuasai bola tak ada pemain yang bergerak mendekat. Setelah pemain melakukan passing, mereka terus bergerak, menarik bola ke ruang kosong. Dan paling penting adalah semua pergerakan dengan atau tanpa bola pemain Spanyol selalu pada opsi untuk mendekat ke gawang lawan.

Spanyol sangat efektif. Di 7 laga pada turnamen kali ini, penguasaan bola mereka selalu di atas 60 persen. Saat kehilangan bola, mereka impresif bergerak menutup dengan dua-tiga pemain. Saling cover. Membawa pemain lawan ke ruang sempit dan tak punya peluang melepas passing alternatif. Begitu bola berhasil direbut, mereka tak buru-buru menyerang.

Dan pusat permainan Spanyol ada pada sosok sang kapten Rodri. Menurut saya, Ia adalah konduktor lini tengah terbaik. Jika Spanyol juara, Rodri adalah pemain terbaik Piala Dunia kali ini. Mengatur tempo, memutus serangan lawan, menginisiasi build up dan passingnya terbilang gila. Ia mencatat 648 passing sukses. Rekor baru passing sukses sepanjang sejarah Piala Dunia. Jauh di atas Xavi yang hanya 500an saat Spanyol juara di Afrika Selatan tahun 2010.

Selain Rodri, Spanyol juga punya dua pemain dengan passing sukses terbanyak. Dan keduanya adalah duet bek tengah. Pau Cubarsi – bek belia yang dua tahun lalu masih bermain di Piala Dunia U-17 di Solo mencatat 547 passing sukses. Menurut saya ini pemain muda terbaik untuk Piala Dunia kali ini. Ketenangan, reading the game, clearance dan build upnya berkelas. Setelah itu ada Aymeric Laporte dengan 533 passing sukses. Bek yang sulit ditembus.

Perang di lini tengah dan sepertiga pertahanan dalam isyu penguasaan bola dengan passing sukses akan sangat menarik karena Argentina punya dua pemain yang memiliki statistik terbaik selain trio Spanyol di atas. Ada Leandro Paredes (496) dan Enzo Fernandez (448). Lini tengah Argentina juga punya pondasi yang stabil dan tak tergoyahkan. De Paul, Paredes, Enzo dan Mac Allistar adalah metronom yang bikin Argentina terus bermain konsisten dengan ritme yang tak berubah. Bayangkan pertemuan mereka dengan Rodri, Fabian Ruiz dan Dani Olmo.

Mengapa statistik passing sukses saya angkat sebagai salah satu kunci laga final? Karena passing sukses menunjukan dua hal. Pertama : dominasi penguasaan bola – dan kedua : efektifitas serangan untuk bikin gol. Juga memberikan gambaran seberapa besar sebuah tim mengorganisasi permainan termasuk keluar dari tekanan lawan.

Sekarang kita lihat lini depan dan perbandingannya dengan pertahanan masing-masing tim. Argentina telah mencetak 19 gol. Ini yang terbanyak sepanjang sejarah setelah Brazil di Piala Dunia 1970. Nyaris semua model bikin gol dilakukan Messi dkk. Gol terjadi lewat open play, memanfaatkan set piece terutama tendangan sudut ataupun crossing dari sisi flank. Spanyol mesti waspada karena Argentina juga bisa bikin 5 gol dari luar kotak pinalti. Messi 2 gol. Lo Celco, Alvarez dan Enzo masing-masing menyumbang satu gol. Ini senjata Argentina saat lawan menutup pertahanan dengan menumpuk banyak bek dalam kotak pinalti.

Julian Alvarez sudah menemukan kepercayaan diri. Lautaro Martinez juga makin membaik. Dan hebatnya, saat lini depan Argentina ditutup, Messi selalu bergerak ke flank kanan. De Paul melindunginya. Lalu dari kaki Messi lahirlah assist berkelas yang dimanfaatkan dengan baik oleh para bek yang naik. Semua gol pemain belakang Argentina datang dari skema ini. De La Fuente tentu telah mempelajarinya.

Ada solusi untuk menghentikan Messi? Menurut saya tidak ada. Ia di level berbeda. Anda boleh memperhatikan Messi di 7 laga Argentina. Berjalan sambil berpikir. Kemampuan scanning nya kelas satu. Dan kalau anda berpikir Messi akan dihentikan saat Ia menguasai bola – anda salah besar. Karena saat bola ada di kaki Messi, yang bergerak duluan adalah pikiran dia yang telah diatur jauh sebelum bola sampai padanya. Tak ada yang tahu skenario apa, kemana bola akan diumpan atau apakah Ia akan dribble menusuk atau melakukan tendangan placing mematikan. Messi hanya bisa dieliminasi perannya jika Ia terputus dengan pemain lain. Tak ada supply, tak ada koneksi.

Sukses mengisolasi Messi sama dengan menurunkan separuh potensi ancaman Argentina. Ada debat taktikal di sini. Fokus pada Messi berarti mengorbankan kolektifitas. Menggeser struktur bermain. Jika konsisten selama pertandingan mungkin hasilnya akan positif. Tapi satu momen gagal maka rusak seluruh game plan. Messi tak boleh dibiarkan bebas mengatur rekan-rekannya lewat pengambilan posisi dan mengirim umpan presisi. Jika gagal membendung Messi maka nasib anda bisa jadi sama dengan Mesir, Swiss dan Inggris. 8 gol 4 assist adalah capaian luar biasa.

Efektifitas serangan Argentina dengan 19 gol mungkin akan diuji oleh benteng terakhir yang kokoh di bawah mistar gawang Spanyol. Unai Simon baru kebobolan satu gol. Ia sukses lakukan 6 clean sheet dari 7 laga yang sudah dijalaninya. Prosentase save sebanyak 93 persen. Lini pertahanan Spanyol juga terbilang sulit ditembus.

Melihat statistik di 7 laga sebelumnya, saya menduga bentrokan masif akan terjadi di sisi flank. Ini sisi paling impresif dari kedua tim. Umpan silang jadi andalan. Buena dan Yamal sedikit lebih agresif karena mereka didukung dua bek sayap yang impresif bergerak membantu serangan. Level Cucurella dan Porro sedikit di atas Molina maupun Tagliafico. Molina menurut saya akan jadi “titik lemah” Argentina yang bisa dieksploitasi. Ia kerap lambat dan sering kehilangan fokus. Montiel lebih baik. Tagliafico juga akan berhadapan dengan Yamal dan Porro. Karena itu kehadiran Nico Gonzales jadi penting.

Duel kelas atas akan terjadi di flank kanan jika Messi bermain melebar dan bertemu Cucurella. Argentina menurut saya harus bermain lebih sabar. Berusaha mengontrol lini tengah. Jika kehilangan bola, sebaiknya lakukan reorganisasi. Olmo, Fabian Ruiz dan Rodri punya pergerakan yang menipu. Belum lagi true pass yang sering muncul dari Cubarsi saat ikut build up.

Dibu Martinez adalah penjaga gawang hebat. Tapi kebobolan 7 gol bukan rekor yang bagus. Itu artinya, konektifitas antara Cuti Romero dan Leandro Martinez tak boleh meninggalkan celah sedikitpun. 7 gol dari open play itu terjadi karena Romero maupun Leandro sering bergerak melebar untuk menutupi kebocoran di bek sayap. Spanyol punya Ayarzabal yang telah 5 kali bikin gol karena pintar mencari celah kosong di antara bek lawan.

Argentina dan Spanyol bukan tim defensif. Spanyol tidak akan memilih bertahan setelah menang. Itu bukan opsi taktikal karena saat anda bertahan melawan Argentina – sejatinya anda sedang membangun ketakutan sendiri. Ketakutan yang akan menghancurkan dari dalam saat serangan bergelombang terus menerjang. Spanyol sedang mengejar prestasi hebat. Mengawinkan juara Eropa dan juara Dunia seperti sukses mereka di Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Arsiteknya juga salah satu yang terbaik. Luis De La Fuente adalah katalis sempurna untuk “The New Tiki Taka”.

Argentina juga sedang menulis kisah terbesar mereka. Mereka tim yang selalu menolak menyerah. Menyerang adalah cara bertahan yang paling efektif. 7 kemenangan di 7 laga sama dengan capaian Brazil 2002. Mereka akan “Bicampeon” jika juara kali ini – sesuatu yang terakhir diraih Brazil tahun 1962. Tak ada alasan apapun untuk gagal meraih bintang ke 4. Semua pemain seperti yang sudah ditunjukkan selalu siap mati untuk Messi. Ikon sepakbola Argentina yang akan melebihi capaian Mario Kempes dan Diego Armando Maradona jika kembali juara back to back. Mereka berjuang untuk identitas nasional. Kebanggaan dan harga diri.

Siapa yang berhak juara? Keduanya punya potensi dengan prosentase 50-50. Detail kecil yang merusak konsentrasi akan jadi pembeda. Kali ini gol akan datang dari mereka yang berjuang sejak sepak mula. Opsi pergantian pemain bisa jadi kunci untuk mempertahankan kemenangan. Satu yang pasti – pada Senin dinihari kita semua akan menyaksikan era kejayaan tanpa batas seorang Lionel Andres Messi atau lahirnya era baru sepakbola dunia bersama Lamine Yamal.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini