Kita yang Mengubah Dunia

Asrul Umarama. Foto: Istimewa

Oleh: Asrul Umarama

(Pegiat PILAS)

Dalam pergeseran tahun Maluku Utara hanya tetap menjadi daerah yang menyimpan sekian banyak masalah oleh elit lokal. Bahwa dengan banyak masalah yang bertumpuk ini seharusnya para akademisi dan mahasiswa menjadi aktor penting dalam menyelesaikan masalah dalam satu daerah.

Tetapi dengan apa yang mereka miliki, paham dan ucapkan tidak pernah untuk berbaring dengan apa yang mereka ucapkan dengan tindakan mereka.

Kaitannya dengan masalah yang terjadi dalam satu daerah ini, ternyata kita hanya dapat menanti sebuah mimpi pada saat tidur, tanpa ada lompatan jauh untuk mengubah satu daerah atau wilayah, yang telah diobrak-abrik oleh para penguasa.

Seorang akademisi memang menganggap bahwa apa yang dikatakan benar bahwa Marx, Engels dengan kawan-kawannya gagal dalam mengubah satu dunia. Akan tetapi apa yang mereka perbuat adalah dunia ini, ternyata berimplikatif besar pada pola pikir mereka yang mereka perbuat dalam tatanan sosial atau masyarakat, sehingga mereka dengan pola pikir yang mereka bangunkan dengan kebenaran mereka menembus daratan Asia.

Inilah ketika mereka memliki kemampuan untuk berintelektual sebagai satu-satunya senjata ampuh untuk mendobrak dan membuka wajah busuk di dalam daerah ini. Maka sekarang yang dibutuhkan adalah sebuah tindakan, bukan omong kosong dalam diskusi tersebut. Bahwa sebuah tindakan pasti untuk berpihak pada masyarakat.

Di Maluku Utara, banyak sekali wajah busuk yang berdasi. Banyak pengusaha yang dimana membuat kesepakatan dalam kegelapan, sehingga mereka dapat mencabik-cabik satu daerah dengan satu gerakan yang pernah mereka lakukan. Sekarang dengan kegagalan intelektual,  untuk menjalankan tugas sebagai seorang intelektual, wajah-wajah busuk mulai beroperasi dengan cara menggali ruang tamu satu daerah.

Bukan hanya berkutat dan terjebak pada satu jalur dan atau di jalan saja. Tapi harus bentuk satu gerakan demi masyarakat, sehingga sedikit pertanyaan dari penulis bahwa, Apakah dengan kemampuan intelektual kita tidak bisa merubah daerah ini? Hal ini yang seharusnya dijawab oleh kita semua jika kita telah diberikan kepercayaan, maka seharusnya kita jadikan orang yang tercerahkan.

Saya selalu mengkhawatirkan seperti yang pernah diucapkan oleh Nietzsche dalam sebuah Foucault; metode dan pengetahuan, bahwa keberadaan adalah kebohongan, kita sebagai intelektual harus selesaikan, artinya apa yang kita wacanakan yang benar namun tidak berani disuarakan di pemerintah sebagai wakil rakyat. Maka kita bagian dari kebohongan yang pernah dibuat oleh wakil rakyat itu sendiri.

Mangapa kita tidak bisa merubah daerah ini, ada apa dengan daerah ini? Jika daerah ini dengan sejumlah cara untuk menjinakkan kita. Maka kita harus melawannya dengan sikap tegar dan berani dan berkata ini saatnya kita kembali dan suarakan untuk rakyat dengan membongkar kebusukan mereka.

Seorang intelektual dapat berharga dan nilai jika kita menyuarakan hak rakyat, maka bernilai tersendiri dikhalayak, jika kita mampu menjaga dan tidak terpengaruh oleh pragmatisme yang saat ini sangat merajalela di wilayah Maluku Utara. Sekarang kita harus berani melihat Maluku Utara dari prespektif lain untuk membongkar kebusukan elit kita yang selama ini menutupi kebusukan yang dibuat dalam satu daerah.

Mereka selalu dengan jas dan dasi yang rapi saat mereka pakai. Tapi intelektual kita harus bernyali dan tidak gentar dengan risiko apapun yang menghalangi kita, bahwa seorang intelektual selalu meraih atau merebut satu perubahan daerah dan mengembalikan hak rakyat.

Menurut Karl Marx, tindakan sosial adalah aktivitas manusia untuk mencapai tujuan tertentu, baik menghasilkan sesuatu maupun mengekspresikan nilai tertentu. Tindakan ini selalu bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh nilai, keyakinan, dan preferensi individu.

Marx juga membedakan antara tindakan pribadi dan tindakan sosial. Misalnya, seseorang yang marah lalu membanting barang pribadi bukan tindakan sosial karena tidak ditujukan kepada orang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Sosok

Dialog Tuhan