Pemkot Ternate Matangkan Rencana Induk Geopark, Bidik Status Nasional hingga UNESCO

Sekda Kota Ternate Rizal Marsaoly saat menyerahkan draf Geopark Ternate. Foto: Istimewa

AyoTernate.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate terus mematangkan persiapan pengembangan kawasan Aspiring Geopark Ternate guna meraih pengakuan sebagai Geopark Nasional hingga menuju UNESCO Global Geopark (UGGp).

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mewakili Walikota Ternate, memaparkan draf Rencana Induk Aspiring Geopark Ternate dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektor yang digelar di Auditorium Ismunadji, Bogor, pada Rabu (28/10/2026).

Pertemuan yang difasilitasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) tersebut dihadiri perwakilan kementerian dan lembaga pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, tim penyusun, serta asosiasi kebumian. Forum ini bertujuan memperkuat sinkronisasi program dan dukungan lintas sektor dalam pengembangan Geopark Ternate.

Dalam paparannya, Rizal menegaskan bahwa pengembangan Aspiring Geopark Ternate mengusung tema besar “Harmoni Gunung Api, Rempah, dan Peradaban di Gerbang Wallacea.”

Kawasan ini mencakup wilayah daratan dan perairan seluas 228,17 kilometer persegi, meliputi enam kecamatan serta dua pulau utama, yakni Pulau Ternate dan Pulau Hiri.

 Kawasan tersebut memiliki potensi warisan alam dan budaya yang terdiri atas 19 geosite, enam biosite prioritas, serta 25 situs budaya (cultural site).

Penyusunan rencana induk ini merupakan tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Taman Bumi (Geopark), serta Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 69.K/GL.01/MEM.G/2025 tentang Penetapan Warisan Geologi (Geoheritage) Kota Ternate.

Sebelumnya, Gubernur Maluku Utara juga telah menerbitkan surat permohonan penetapan Geopark Nasional Ternate sekaligus permohonan rekomendasi kepada Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) pada 31 Agustus 2026.

Dalam rapat koordinasi tersebut, peserta membahas 12 isu prioritas beserta indikasi aksi penanganannya bersama kementerian dan lembaga terkait. Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi konservasi dan tata ruang, mitigasi bencana, pengelolaan sampah pesisir, konektivitas wilayah, integrasi budaya dan keanekaragaman hayati, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Pada aspek konservasi dan tata ruang, penguatan perlindungan warisan geologi menjadi salah satu agenda utama untuk mengantisipasi ancaman perambahan lahan dan penambangan material. Upaya tersebut diarahkan melalui penguatan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) serta penetapan Kawasan Cagar Alam Geologi (KCAG).

Sementara itu, dari sisi mitigasi bencana, posisi Ternate yang berada di kawasan rawan erupsi Gunung Gamalama, gempa bumi, tsunami, dan bencana hidrometeorologi membutuhkan penguatan sistem peringatan dini serta kesiapsiagaan masyarakat.

Pengelolaan sampah pesisir juga menjadi perhatian, terutama di kawasan geosite seperti Batu Angus dan Danau Tolire. Penyediaan sarana pengelolaan sampah terpadu diharapkan dapat mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus menjaga kelestarian kawasan geowisata.

Pada aspek konektivitas, pembangunan dan rehabilitasi dermaga penyeberangan menjadi salah satu langkah untuk memperlancar akses transportasi laut antara Pulau Ternate dan Pulau Hiri.

Pengembangan geopark juga diarahkan untuk mengintegrasikan warisan budaya dan keanekaragaman hayati melalui dokumentasi sejarah rempah, tradisi kesultanan, kuliner khas, serta perlindungan ekosistem pesisir dan daratan.

Selain pelestarian, penguatan ekonomi masyarakat menjadi bagian penting dalam rencana tersebut. Pemberdayaan UMKM dan perempuan akan didorong melalui pengembangan geoproduk berbasis rempah, kuliner, dan kerajinan lokal.

Secara keseluruhan, pengembangan Geopark Ternate bertumpu pada empat pilar utama, yakni konservasi, edukasi, ekonomi masyarakat, dan sarana pelaksanaan.

Berdasarkan dokumen rencana induk, terdapat 99 aksi dalam matriks program yang disusun melalui tiga fase. Tahap jangka pendek pada 2027–2028 difokuskan pada pengkajian dan perencanaan. Tahap jangka menengah pada 2027–2031 diarahkan pada pelestarian dan pengembangan sarana, sedangkan tahap jangka panjang pada 2027–2037 difokuskan pada pemanfaatan geowisata secara penuh.

Melalui penyusunan rencana induk tersebut, Pemerintah Kota Ternate berharap dukungan lintas sektor dapat semakin diperkuat sehingga seluruh program pengembangan geopark berjalan terarah dan berkelanjutan.

Upaya ini diharapkan menjadi langkah penting bagi Ternate untuk meraih status Geopark Nasional sebelum melangkah menuju pengakuan UNESCO Global Geopark. Selain meningkatkan daya tarik pariwisata, pengembangan kawasan tersebut juga diharapkan mampu menjaga warisan geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

(srm/srm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini