Prancis vs Maroko: Perang Diaspora dan Adu Strategi Dua Pelatih Hebat

Beberapa pemain Timnas Maroko dan Prancis. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Empat tahun lalu di Qatar, gol cepat Theo Hernandez dan tambahan gol dari Kolo Muani di babak kedua laga Prancis vs Maroko menghentikan langkah dongeng “The Atlas Lions” di babak semifinal Piala Dunia 2022. Maroko gagal ke partai puncak. Meski begitu, capaian semifinal Piala Dunia adalah prestasi hebat untuk negara-negara Afrika yang belum pernah ada sebelumnya.

Subuh besok di Boston Stadium, Maroko kembali bertemu Prancis. Kali ini mereka berbeda. Empat tahun lalu – Walid Regregui membawa timnya dengan permainan low block rendah, bertahan dan menunggu lalu melakukan serangan balik cepat. Maroko bukan tim unggulan. Masihkah Maroko dengan game plan yang sama?

Maroko kali ini lebih kuat secara struktur. Mereka dominan menguasai bola, mengatur tempo dan membuka peluang untuk mencetak gol dengan taktik yang mencekik lawan. Bermain sabar dan tak terpengaruh lawan. Tak ada lagi tim yang bertahan total. Maroko kali ini sudah matang. Punya ketenangan dan memiliki kedalaman skuad yang mewah dengan mayoritas pemain muda.

Menurut saya, ada dua “kunci sukses” yang membawa mereka ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026. Pertama – pemain diaspora. Saat ini ada 6 pemain kelahiran Prancis yang akan melawan tanah kelahirannya. Maroko juga menyebar “tallents scouting” di banyak negara. Mencari pemain keturunan berbakat di usia muda. Para diaspora itu dipantau sejak usia 6 tahun. Berbeda misalnya dengan Indonesia yang berburu pemain diaspora saat mereka sudah jadi pemain profesional.

Pemain-pemain belia itu kemudian dilatih di akademi sepakbola yang memakai nama Raja Maroko saat ini – Mohammed VI. Ini fasilitas pelatihan pemain muda terbaik di Afrika dan salah satu yang terbaik di dunia. Berdiri sejak tahun 2009 di atas kawasan seluas 18 hektar di dekat Rabat, Ibu Kota Maroko, akademi ini memiliki semua fasilitas terbaik untuk pengembangan. Tiap tahun Sang Raja mendonasikan uangnya sebanyak 165 milyar untuk melatih 50 anak berusia 13-18 tahun.

Hasil akademi ini adalah lahirnya pemain muda potensial yang membawa Maroko juara Piala Dunia U-20 tahun 2025. Di semifinal, Maroko U-20 menyingkirkan Prancis lewat adu penalti dan jadi juara setelah mengalahkan Argentina 2-0. Prestasi Maroko U-20 ini yang bertaut erat dengan “kunci sukses” kedua. Mohamad Ouabhi adalah pelatih junior yang kini membesut Hakimi dkk.

Ouabhi bukan pemain sepakbola profesional. Ia adalah seorang guru pendidikan jasmani di kota kelahirannya Scaerbeek Belgia. Ketertarikannya pada sepakbola membawa dirinya bergabung dengan akademi Anderlecht. 17 tahun Ia belajar dan bekerja membina pemain muda yang sempat jadi bagian dari generasi emas sepakbola Belgia. Ia sempat jadi pelatih Anderlecht junior sebelum bergabung ke klub Al Fateh di Liga Arab.

Tahun 2023, Ia dipanggil Maroko untuk jadi pelatih Timnas junior. Dan sukses juara dunia U-20 membawanya ke puncak karir sebagai pelatih Timnas Nasional. Apa kelebihan Ouabhi? Ia pintar membaca permainan lawan, sangat komunikatif karena menguasai 4 bahasa, fokus hanya pada sepakbola dan menghindari drama yang tidak perlu, sangat menghormati lawan dan memiliki ketenangan.

Semua kepribadian Ouabhi terlihat di 5 laga yang sudah dilalui Maroko. Ia menanamkan keyakinan dengan filosofi bermain yang terukur. Maroko saat ini bukan lagi tim kejutan. Mereka punya tujuan. Jadi juara dunia yang menurut Ouabhi adalah ukuran sebenarnya dari kesuksesan.

Statistik menunjukan Maroko belum pernah kalah. Sekali seri lawan Brazil dan empat kemenangan atas Skotlandia, Haiti, Belanda dan Kanada. Mereka bikin 10 gol dan kemasukan 4 gol. Jadi salah satu tim dengan recovery ball tercepat di Piala Dunia. Kelebihan Maroko sejauh ini adalah konsistensi pada game plan dan tujuan. Mereka tak pernah mengubah apapun. Setiap lawan dihadapi dengan pola yang sama.

Menghadapi Prancis, Saya meyakini Ouabhi akan memainkan starting eleven yang nyaris sama di laga-laga sebelumnya. Maroko hanya kehilangan Ismael Saibari. Bomber utama yang sudah bikin 3 gol ini menepi karena cedera. Posisinya akan diisi oleh Soufiane Rahimi yang sudah berkontribusi 2 gol di Piala Dunia kali ini.

Tiga pemain di belakang Rahimi dalam skema 4-2-3-1 adalah Azedine Ounahi, Bilal El Khannouss dan Brahim Diaz. Neil El Aynaoui dan Ayyoub Bouaddi akan bermain sebagai double pivot. Di lini pertahanan, Chad Riad akan kembali berduet dengan Issa Diop. Di kanan ada Ashraff Hakimi dan kiri ditempati oleh Noussair Mazraoui. Kuartet ini akan melindungi Bono dari gempuran Prancis.

Laga bigmatch ini menurut saya akan lebih banyak terkonsentrasi di sektor flank. Didier Deschamps yang setia dengan skema 4-3-3 juga tak akan lakukan perubahan di sebelas pertama. Itu artinya, Desire Doue akan bertemu kompatriotnya sesama PSG, kapten Hakimi. Ousmane Dembele atau Kylian Mbappe juga akan bertemu Hakimi karena keduanya terbiasa melebar. Hakimi tak bisa bebas overlapping seperti biasa. Ia butuh cover dari El Khannouss atau El Aynaoui.

Di sisi flank sebelah, Dembele akan bertemu Mazraoui. Akan seru karena Mbappe dan Olise punya kecenderungan bergerak juga ke sisi ini. Mazraoui butuh cover dari Brahim Diaz dan Bouaddi. Kecepatan vs kecepatan di sektor ini bakal menyajikan permainan terbuka dengan kecerdasan tingkat tinggi.

Karena itu, kendali lini tengah juga sangat penting. Ounahi sudah bikin 2 gol dan akan jadi perhatian entah dari Adrian Rabbiot atau Manu Kone. Sayang Prancis kehilangan Aurelian Tchouameni yang cedera. Siapa yang mengawal Olise? Pemain Ini butuh perhatian ekstra karena Olise tipikal gelandang kreatif yang sulit dibaca pergerakannya. Ia punya visi besar dan true passnya sangat mematikan.

Lini ofensif Prancis jadi yang terbaik di Piala Dunia kali ini. Hanya Olise yang belum bikin gol. Barcola (2), Doue (1), Dembele (4) dan Mbappe (7) adalah kontributor utama 14 gol Prancis sejauh ini. Mereka membangun serangan dari semua sisi. Menurut Deschamps – Prancis dalam laga kali ini butuh efisiensi. Bermain menekan dan bikin gol. Tak boleh membuang-buang peluang

Dengan lima kemenagaan sejak fase grup, Les Blues punya catatan pertahanan yang terbilang sangat baik. Prancis baru kebobolan 2 gol.

Saya meyakini tak ada rotasi di lini ini. Kuartet Lucas Digne, William Saliba, Dayot Upamecano dan Jules Kounde akan bermain sejak awal. Mike Maignan yang belum teruji sepenuhnya – kali ini akan mendapat gempuran serius dari Maroko.

Prancis vs Maroko boleh dikata perang kemewahan di semua lini. Satu lawan satu dengan kualitas yang hampir sama. Kedua tim punya kedalaman skuad yang merata. Perancis punya banyak opsi di depan dan sedikit keterbatasan di lini tengah setelah Tchouameni absen. Maroko sama. Lini tengah dan depan mereka punya cadangan berkualitas di bench. Dan semuanya anak muda berusia di bawah 23 tahun. Chemsdine Talbi, Annas Salla-Edine, Samir El Mourabet dan Gessime Yassine yang sudah bikin satu gol adalah kemewahan masa depan sepakbola Maroko.

Laga ini juga menunjukan sisi ketenangan yang sama dari kedua pelatih. Ouabhi dan Deschamps adalah pelatih jenius. Pergantian taktikal dari hasil kemampuan analisa permainan mereka saat laga berjalan juga sama. Keduanya tak banyak bicara. Mereka sama-sama tak peduli dengan perangkat pertandingan yang seluruhnya berasal dari Argentina. Siapa yang akan menang?

Prancis jelas diunggulkan.Tapi Maroko sekali lagi bukan tim kejutan menahan Brazil (yang akhirnya tersingkir juga) dan memulangkan Belanda adalah capaian luar biasa. Hasil laga ini akan jadi simulasi siapa yang layak bermain di partai final.

Sejarah Maroko yang pernah jadi koloni Prancis sejak 1912 hingga 1956 akan memberi warna. Ini pertarungan “satu darah”. Latar diaspora keduanya saling berbaur. So, yang menang adalah mereka yang yakin dan mau bekerja keras selama waktu normal. Perancis punya potensi lebih besar ke babak 8 Besar. Akan jadi prestasi hebat bagi Deschamps. Tapi Maroko juga layak untuk jadi yang terbaik.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini