Portugal vs Spanyol: Ternate, Tidore dan Perang Iberia
Oleh: Asghar Saleh
Minggu sore saya memilih berolahraga jalan kaki mengitari pelabuhan Bastiong lalu mampir sejenak di atas dermaga yang sibuk. Di timur menjulang Kie Matubu yang mistis. Di barat, puncak Gamalama tertutup awan. Saya membayangkan selat yang memisahkan dua pulau ini lebih dari 500 tahun lalu.
Bandar Talangame jadi pintu masuk dagang bagi Portugis. Di sebelahnya, Rum dan Mareku jadi pelabuhan yang sibuk untuk berniaga dengan Spanyol. Rempah – terutama cengkih dan pala – jadi komoditas utama. Rempah juga yang membawa Portugis datang ke Ternate tahun 1512. Spanyol menyusul sembilan tahun kemudian ketika armada Sabastian Del Cano melepas sauh di Tidore pada tahun 1521.
Laut yang memisahkan Tidore dan Ternate adalah bagian dari garis imajiner yang ditandatangani oleh kedua bangsa ini dalam perjanjian Saragosa pada 22 April 1529. Rebutan rempah membuat negeri bertenaga di semenanjung Iberia ini saling berperang. Klaim wilayah dan kuasa membuat gereja pusing. Paus sebenarnya sudah turun tangan memisahkan lewat perjanjian Tordesillas. Membagi wilayah kuasa Portugis dan Spanyol yang ditarik dari Tanjung Verde ke arah Barat. Namun di Maluku, perang tak berhenti. Kepentingan lokal ikut bermain memelihara hegemoni.
Isi perjanjian Saragosa sendiri lebih detail mengatur Maluku. Wilayah Barat kepulauan kaya rempah ini hingga ke Brazil jadi bagian dari kuasa Portugis. Di Timur dengan garis batas hingga ke Filipina jadi bagian dari Spanyol. Itulah mengapa Spanyol meninggalkan Maluku. Pindah ke Filipina. Tapi Tidore tidak tunduk. Perang juga tak pernah berhenti.
Dulu keduanya berperang dengan dukungan dua kekuatan lokal yang bersaing. Tidore dan Ternate. Ratusan Galeon dan Kora-Kora jadi simbol perang terbuka di laut. Ribuan meriam meledak dan karam di lautan biru. Benteng-benteng direbut dan jatuh. Ribuan prajurit gugur. Perang di Maluku bahkan melibatkan tentara Jawa, Aceh, Makassar dan wilayah yang lain.
Dinihari nanti, perang besar lebih dari 500 tahun lalu itu kembali berulang. Kali ini tak ada dentuman meriam, tak ada pengkhianatan dan tipu muslihat yang mengadu domba. Tak ada armada laut dengan bendera dan hunusan pedang. Portugis dan Spanyol kembali “berperang” di tanah Amerika. Bigmatch 16 Besar Piala Dunia 2026 ini berpusat di Dallas Stadium – sekitar 2000 km arah Barat Daya dari New York – pusat Amerika yang dulu ditukar dengan Pulau Run di Banda karena kepentingan rempah juga.
Di Ternate, saban malam euforia Piala Dunia – sama seperti dua tiga Piala Dunia sebelumnya – diwarnai dengan “pawai’ kemenangan ribuan pendukung tim yang bermain. Acara nonton bareng penuh sesak di mana-mana. Bendera negara-negara unggulan “berdiri” nyaris di setiap sudut kota. Tidore punya euforia yang sama. Sepakbola “menyatukan” semua orang. Tak peduli harga BBM sudah mahal. Tidore bahkan punya “tradisi” yang ikonik. Mereka yang timnya kalah dihukum “batobo“. Dicebur ke air laut selepas peluit panjang tanda akhir pertandingan. Tak peduli status sosial. Tak ada sekat di sana. Semua orang sama sebagai pendukung yang gila.
Perang bola juga mendominasi media sosial. Meme dan kebiasaan “baku terek” menenggelamkan berita terkait MBG, Kopdes, korupsi, kerusakan lingkungan, anak-anak yang tak diterima di sekolah favorit atau juga rencana pinjaman 1 Trilyun Rupiah oleh Pemprov Maluku Utara karena tak lagi punya dana untuk membangun. Siklus hidup berubah. Malam begadang, siang tidur. Tak ada kesulitan hidup sepanjang Piala Dunia. Orang ramai tetap bergembira.
Di Dallas Stadium dinihari nanti, Spanyol datang dengan status unggulan dan lebih banyak menang dalam perjumpaan mereka dengan Portugal sepanjang 100 tahun terakhir. Meski dominan – tahun lalu mereka kalah dalam adu pinalti di final Nation Leaque. Laga keduanya yang paling saya ingat terjadi di babak grup Russia 2018. Pertandingan paling menarik karena kedua tim saling berbalas gol. Spanyol lebih dulu unggul sebelum Cristiano Ronaldo membuat hattrick – dengan gol penutup “free kick” spektakuler ke gawang Iker Casillas.
Di Piala Dunia kali ini, Spanyol berjaya di grup H dengan dua kemenangan plus hasil mengejutkan ditahan imbang Tanjung Verde di laga pembuka. Di babak 32 Besar, brace Mikel Oryazabal dan gol Pedro Porro memulangkan Austria. La Furia Roja punya statistik bagus. Bikin 8 gol dan belum pernah kebobolan.
Pelatih Luis De La Fuente sangat mungkin memainkan skuad yang sama untuk memastikan skema 4-3-3 akan berjalan sesuai game plan. Unai Simon tak tergantikan. Ia belum kebobolan satu golpun. Lini pertahanan yang solid tetap jadi milik kuartet Pedro Porro, Pau Cubarsi, Almeryc Laporte dan Mark Cucurella.
Di tengah, Spanyol masih punya penerus Busquet sebagai DM modern pada sosok sang kapten Rodri. Tugas menjaga keseimbangan dan supply ke depan dipercaya pada Dani Olmo dan Pedri. Lini tengah ini akan jadi “arena perang” sesungguhnya dari laga melawan Portugal. Pasalnya, skuad asuhan Roberto Martinez juga punya tiga gelandang dengan kualitas nomor satu. Vitinha, Joao Neves dan Bruno Fernandes.
Problem bagi Portugal jika melihat perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 adalah belum efektifnya trio gelandang ini dalam mengkreasi lini tengah untuk lakukan tekanan ke depan melalui progresif pass yang intens. Vitinha dominan megang bola tapi hanya sirkulasi horisontal. Joao Neves belum optimal. Bruno Fernandes juga belum menemukan sentuhan magisnya.
Di laga pertama grup K lawan Kongo, determinasi tak ada. Portugal bermain dengan ego pemain klub. Semua merasa lebih besar dari tim nasional. Mereka baru membaik lawan Uzbekistan tapi kembali buruk lagi pas lawan Kolombia. Statistik lawan Kroasia juga tak terlalu dominan dalam serangan. Kita menunggu “ledakan” lini tengah. Jika Vitinha yang ngatur tempo, Joao Neves jaga keseimbangan dan Bruno berani melepas umpan-umpan di antara ruang kosong pertahanan Spanyol – mungkin Ronaldo bisa menambah pundi golnya dan membawa Portugal ke babak 8 Besar.
Jika penampilan lini tengah Portugal “under perform” dan lebih banyak bermain aman di daerah sendiri, maka Spanyol berpotensi memulangkan Ronaldo dkk. Spanyol juga dominan kuasai bola tetapi lebih besar melakukan tekanan ke depan. Dua flank mereka juga bagus dalam membuka ruang atau lakukan tusukan ke dalam. Alex Buena sudah bikin gol. Lamine Yamal juga sama.
Bomber utama Spanyol adalah tipe oportunis. Tak banyak bergerak dengan penguasaan bola tapi punya “timming” dan pintar mencari celah. Oryazabal selalu ada di tempat dan waktu yang tepat untuk bikin gol. 4 gol selama turnamen ini adalah bukti kualitasnya. Jika pertahanan Portugal lengah maka bahaya selalu datang lebih cepat.
Menurut saya, Martinez juga tak akan merubah “starting eleven” di lini tengah dan pertahanan timnya. Diogo Costa tetap jadi nomor satu. Ruben Diaz dan Renato Vega jadi bek tengah. Cancelo di kanan dan Nuno Mendes di kiri. Catatan pengingat adalah mereka sudah kebobolan 2 gol dari open play.
Flank kiri Portugal butuh waspada. Jika Martinez memainkan Rafael Leao sejak awal maka Mendes tak bisa terlalu leluasa bergerak naik. Leao punya sisi defensif yang kurang bagus. Menjaga flank kiri jadi penting bagi Mendes karena ada Yamal di situ. Kehilangan momen krusial dan membiarkan Yamal bebas sama dengan membiarkan gawang Costa terancam secara langsung. Full back kanan Porro juga punya fleksibilitas naik turun yang bagus. Jika Yamal masuk dan Porro naik, ancaman jadi bertambah. Karena itu Leao harus bermain pintar. Membangun serangan tetapi juga rajin mengcover pertahanan.
Saya memperkirakan head to head dengan intensitas tinggi akan terjadi di sektor ini. Leao dan Mendes akan berebut ruang dan waktu melawan Porro dan Yamal. Presentasi kemenangan kedua tim sebagain besar akan berasal dari sisi flank ini. Di kanan, Neto bisa jadi pilihan utama tapi opsi memainkan Francisco Conceicao untuk menambah kecepatan adalah urusan wajib bagi Martinez. Sisi flank Portugal juga harusnya melakukan lebih banyak upaya crossing untuk mencari Ronaldo. Sesuatu yang jarang terlihat di empat pertandingan sebelumnya. Ronaldo lebih sering terisolir.
Bruno Fernandez juga sebaiknya tidak terlalu turun. Harus ada pemain yang mengisi ruang kosong saat Ronaldo bergerak menarik bek lawan. Bruno punya kualitas. Juga punya tendangan dari luar kotak pinalti yang terbilang presisi. Potensi Bruno sama sekali belum terlihat sebagaimana musim hebat dia bersama MU. Hanya Joao Neves yang melakukan pergerakan ini di dua tiga laga sebelumnya. Opsi memainkan Gonzalo Ramos adalah pilihan rasional jika ingin berburu gol.
Martinez juga sebaiknya hati-hati dalam melakukan pergantian pemain. Ini fase “knock out“. Pertandingan bisa diselesaikan lewat adu penalti. Mengganti Ronaldo dan menghapus namanya dari daftar penendang pinalti sama dengan mengurangi satu gol bagi Portugal. Ronaldo di usia 41 tahun adalah penendang penalti terbaik di dunia.
Yang pasti laga ini boleh dikata adalah duel satu lawan satu di semua lini. Mulai dari kiper hingga penyerang utama, kedua tim punya 11 pemain yang sama kualitasnya. Karena itu, detail kecil entah kesalahan atau kemampuan memanfaatkan peluang akan jadi pembeda. Hasil laga menurut saya ditentukan oleh detail-detail yang kecil itu.
Spanyol seperti biasa akan memulai dengan penguasaan bola yang menekan lawan. Portugal bisa memilih sabar dan bertahan secara kolektif di zona tengah. Menunggu kesalahan lawan, merebut bola dan langsung menyerang balik.
Jujur agak sulit memprediksi hasil laga besar ini. Keduanya adalah tim terbaik turnamen. Ini salah satu partai final yang datang terlalu cepat. Spanyol diunggulkan untuk menang. Mereka layak jadi kandidat juara. Tapi dengan segala subyektifitas dan kalau boleh memilih saya lebih berharap Portugal melangkah lebih jauh. Mengapa? Ada Ronaldo di sana.
Dalam sesi konprensi pers sebelum laga, Ronaldo sudah menyatakan ini Piala Dunia terakhirnya. 23 tahun bermain di level tertinggi dengan banyak prestasi hebat pada akhirnya membawa dirinya pada sebuah akhir yang disadari.
“Saya akan pergi dengan hati nurani yang bersih. Bukan 100 persen tapi 1000 persen. Karena saya telah memberiksn segalanya untuk sepakbola. Ini Piala Dunia terakhir saya tapi saya berharap (subuh nanti) bukan pertandingan terakhir saya”.
Sebuah perpisahan untuk Ronaldo? Atau sejarah akan berpihak untuk dirinya yang belum memenangi Piala Dunia.***


Tinggalkan Balasan