Perspektif: Benarkah Argentina Selalu Diuntungkan?
Oleh: Asghar Saleh
“Segala sesuatu yang kita dengar adalah pendapat, bukan fakta. Segala sesuatu yang kita lihat adalah perspektif, bukan kebenaran”.
Saya kutip ucapan Marcus Aurelius – Kaisar Romawi yang pernah begitu berkuasa sebagai pembuka tulisan ini. Pasalnya setelah laga Argentina vs Mesir, media sosial dipenuhi ragam opini. Mayoritas menilai wasit dan FIFA berpihak pada Messi dkk.
Saya tidak sedang membela Argentina karena ini bukan tanah tumpah darah. Tapi penting untuk memahami Aurelius saat disrupsi kemajuan tekhnologi membawa manusia pada “kemalasan berpikir” secara mandiri. Kita kesulitan membedakan fakta dan perspektif. Lalu secara sadar mendebat kebenaran sesuai keinginan kita.
Agar fakta dalam pertandingan sepakbola tidak terjebak pada subyektifitas yang sumir dan semua keputusan bisa mendekati kebenaran, bukan lagi bergantung pada perspektif wasit – FIFA sejak Piala Dunia 2018 di Russia telah menggunakan Video Assistant Referee atau VAR. Ini tekhnologi dimana wasit bisa menggunakan tayang ulang video untuk membantu dirinya mengambil keputusan yang tepat. Cakupannya meliputi potensi penalti atau offside, mengesahkan gol, pemberian kartu merah dan mereview keputusan wasit yang dianggap keliru saat memberikan hukuman.
Sejarah VAR sendiri bermula dari Belanda awal tahun 2010. Mereka menguji coba “proyek wasit 2.0” dimana tekhnologi jadi “pembantu utama”. Eredevise menggunakannya pada kompetisi 2012-2013. Punya banyak manfaat – negara-negara Eropa kemudian menggunakan VAR di kompetisi lokal. VAR dilegalisasi penggunaannya ke asosiasi sepakbola internasional dan FIFA sendiri memakainya pada Piala Konfederasi tahun 2017. Setahun kemudian, Piala Dunia resmi menggunakan tekhnologi ini.
Apakah sepakbola jadi lebih adil dan maju? Secara umum sangat membantu. Pelatihan untuk perangkat pertandingan terus dilakukan. Kualitas VAR diperbaiki. Kemajuan tekhnologi sebagaimana tesis Harari mulai mengintervensi keputusan manusia. Keputusan-keputusan krusial di sepakbola membutuhkan VAR. Tapi perdebatan tak berakhir. Protes sana-sini terus terjadi.
Mengapa? VAR menurut saya tidak beda dengan mesin ATM. Dia membantu yang anda butuhkan. Jika anda masuk ke bilik ATM lalu menekan tombol kombinasi untuk 100.000 – tak mungkin uang yang keluar jadi 1.000.000. Ada kendali manusia atas mesin itu.
Jadi jika anda tidak puas dengan sebuah keputusan wasit – yang pertama diingat adalah wasit tidak berkerja sendirian. Dia punya asisten di lapangan dan juga di ruang khusus dengan monitor yang merekam seluruh kejadian. Ada banyak kamera dengan sudut pengambilan gambar yang berbeda.
Ketika wasit ragu atau sudah mengambil keputusan – intervensi dari ruang VAR bisa mengubah segalanya. Siapa yang meminta “peninjauan ulang”?. Mereka yang bekerja di dalam ruang khusus itu. Ada subyektifitas yang jadi perdebatan karena belum ada “standard” tentang apa yang benar. Perspektif sekali lagi masih dominan.
Tak aneh jika kecaman terhadap keputusan wasit menjadi bias karena dia tidak bekerja sendirian. Dalam banyak kasus di Piala Dunia – VAR yang punya banyak “mata elang” tidak bekerja untuk menghentikan kesalahan yang jelas. VAR melalui tangan-tangan manusia justru menjadi mesin untuk mencari kesalahan. Yang manipulatif di sini adalah mereka yang memberi perintah.
Dengan itu kita ingat gol Iran yang dibatalkan, potensi penalti untuk Ghana saat pemainnya dilanggar oleh bek Inggris Ezri Konsa, batalnya gol Jonathan Tah ke gawang Paraguay, pelanggaran bek Argentina terhadap pemain Tanjung Verde di tepi kotak penalti, pertandingan brutal Perancis vs Paraguay yang tanpa kartu kuning untuk pemain Paraguay atau banyak lagi yang bisa anda ingat sendiri.
Di berbagai kasus pengabaian VAR itu, perspektif tetap jadi penentu. Dalam laga Argentina vs Mesir – Saya tidak setuju terhadap review wasit yang membatalkan gol Mostafa Ziko. Protokol VAR memberi peringatan bahwa VAR hanya bekerja jika ada serangan yang jelas dan tim yang kehilangan bola tidak punya ruang untuk merebut kembali. Ada “Attacking Possesion Phase” yang merugikan.
Saat Leandro Martinez kehilangan bola karena kontak minimal dengan bek Mesir Marwan Attia, jarak gawang Argentina lebih dari 90 meter dari tempat kejadian. Haissem Hassan kemudian menggiring bola melewati tiga bek Argentina. Ada tiga peluang terbuka untuk merebut kembali bola tapi para bek gagal. Bola diambil Salah dan memberikan assist pada Ziko dan terjadi gol. Protokol VAR mestinya mengabaikan pelanggaran.
Perkara kontak minimal ini jadi dasar yang sama saat wasit mengabaikan protes Mesir yang meminta penalti saat Salah dijatuhkan. VAR mendiamkan insiden ini. Dan debat kemudian “memojokkan” Argentina sebagai anak emas FIFA. Sebutan skandal bermunculan. Semua orang yang tidak “menyukai” Messi menjadikan laga ini sebagai justifikasi bahwa Piala Dunia kali ini telah “diatur”.
Mengapa Argentina begitu seksi? Kita hidup di zaman ketika algoritma memaksa anda untuk tidak bebas memilih. Sesuatu yang viral adalah komoditas bisnis paling menguntungkan. Dan algoritma punya kecenderungan untuk terus memviralkan sesuatu yang tidak disukai itu. Kebusukan diperjualbelikan. Dia tak mendorong kebenaran. Saat jari anda menyebar kebencian – ada keuntungan yang dinikmati mereka yang menguasai bisnis media sosial.
Perspektif sebagaimana kata Aurelius bukan kebenaran. Ia hidup untuk menguji seberapa besar konsistensi kita untuk berpikir secara waras. VAR hari-hari ini adalah bagian dari sepakbola yang sejak lahir telah hidup berdampingan dengan kontraversi. Jika di Meksiko 1986 sudah ada VAR, anda yakin wasit akan membatalkan gol tangan Tuhan Maradona? Atau membiarkan gol itu terus jadi sesuatu yang dibicarakan sepanjang sejarah manusia.
Intervensi VAR menurut saya sepenuhnya dikendalikan oleh manusia. Oleh pembantu wasit yang bekerja dalam ruang tertutup – yang bebas membuat keputusan tanpa evaluasi. Wasit dan pembantunya bisa benar. Mereka juga bisa salah. Tapi sepakbola tak boleh mati karena sebuah momen yang terjadi dan menyulut kontraversi.
Kita tetap punya andil besar untuk menentukan arah sepakbola. Dan karena itu di bagian akhir tulisan ini saya ingin menyampaikan beberapa fakta untuk memelihara kewarasan kolektif. Tak ada paksaan karena tulisan ini bukan untuk memastikan sebuah kebenaran. Ia hanya pengantar kecil untuk menyusun cara berpikir berbasis data.
Saya membaca banyak pendapat terkait laga Argentina vs Mesir. Yang paling banyak dikutip adalah penjelasan pelatih Hossam Hassan – ini penyerang hebat Mesir di masa lalu – yang menganggap wasit menghancurkan langkah Mesir. Hassan menuduh secara terbuka kalau Francois Letexier telah merampok kemenangan Salah dkk.
Anda ingat sosok ini? Wasit asal Prancis ini sempat dirosting publik tanah air saat memimpin laga perebutan tiket Olimpiade Paris 2024. Ia memberikan penalti kepada Guinea U-23 karena Witan melakukan pelanggaran. Padahal tanyangan ulang televisi menunjukan pelanggaran terjadi di luar kotak penalti. Ia juga memberikan penalti kedua untuk Guinea saat Dewangga melakukan clearance bersih di kotak penalti Garuda Muda. Indonesia kalah dan gagal mencapai Paris.
Kritik terhadap Letexier yang “diolah” oleh Hossam Hassan adalah subyektifitas untuk menutupi kegagalan taktisnya yang jadi penyebab Mesir kalah. Dia sibuk mempertanyakan keputusan wasit yang menganulir “gol kedua” Mesir. Pertanyaan paling ringan dari saya adalah – apakah Ia akan tetap memprotes gol yang dianulir itu jika pertandingan selesai dan skor tetap 2-0 untuk kemenangan Mesir?
Kita harus jujur melihat urutan kejadiannya. Mesir menurut saya bermain sangat baik di babak pertama. Mereka mengeksploitasi lini tengah Argentina yang kosong karena Scaloni menggunakan skema 4-4-2 Diamond. De Paul dan Mac Allistar bermain sebagai gelandang sayap yang ambigu.
Keduanya gagal menyerang dengan kecepatan karena memang tidak punya itu dan sering terlambat meng-cover lini tengah. Mesir juga pintar karena Salah terus mendekati Martinez. Menutup ruang gerak dan membatasi kontrol bolanya. Salah tahu, inilah sumber kekuatan Argentina. Martinez punya “long ball vertikal” yang mematikan ke Messi. Dan ini selalu jadi awal serangan Argentina yang berujung gol.
Mesir yang kuat secara struktur dan agresif bikin gol lewat tandukan bek tengah Yasser Ibrahim di menit 15. Mereka terus menekan Argentina. Bermain dengan garis pertahanan tinggi. Semua pemain bergerak. Saling cover posisi. Dalam sebuah momen serangan balik lewat Haissem Hassan, Mesir menggandakan keunggulan. Namun VAR membatalkan gol Mostafa Ziko di menit ke 58 itu.
Tak ada protes berlebihan. Salah malah menanggapi keputusan wasit dengan senyum. Mesir konsisten dengan game plan dan yakin bisa mengendalika Argentina. Mereka kembali bikin gol di menit 67. Lagi-lagi oleh Ziko. Skor 2-0. Di momen ini Hossam Hassan abai dan terlalu percaya diri. Tak ada perubahan di kubu Mesir
Sementara Scaloni justru memasukkan Lautaro Martinez dan Nico Gonzalez untuk menambah daya gedor. Messi diminta lebih bermain ke sisi flank. Bek-bek Mesir yang sepanjang laga sukses mematikan pergerakan Messi jadi hilang fokus. Messi menjauh dari area pinalti. Apa respons Hassan? Dia mengganti penyerang sayap dengan penyerang sayap. Trezequet dan Marmoush masuk. Ziko dan Emam Ashour ditarik.
Tak ada pergantian taktikal untuk bermain lebih dalam dan mengamankan hasil. Menit 79, Romero bikin gol. 2-1. Ada pergantian di kubu Mesir dengan mengeliminasi penyerang? Menambah pemain tengah atau bek baru yang lebih segar untuk mengantisipasi tekanan Argentina yang makin intensif? Tidak ada pergantian apapun Kawan. Padahal skor 2-1 menyisakan waktu normal sekitar 10 menit.
Mesir lupa jika mereka sedang melawan Juara Dunia yang punya Messi. Tim yang teruji mentalitasnya. Saat Messi bikin gol di menit 83, Mesir bahkan tak berubah sedikitpun. Padahal ada opsi untuk memaksa perpanjangan waktu. Lalu adu penalti. Dan hukuman itu datang di menit 93 saat gol Enzo Fernandez membuat skor jadi 3-2. Mesir terkejut tapi waktu tak lagi berpihak pada mereka.
Di titik ini, menurut saya – respons taktikal yang kurang jadi pangkal Mesir kalah. Bandingkan dengan apa yang dilakukan Thomas Tuchel dalam laga eliminasi melawan tuan rumah Meksiko. Bermain dengan 10 orang dan dalam teror yang mengerikan di sisa laga, Tuchel memasukan semua bek yang dia miliki. Mereka bertahan dan akhirnya sukses mengamankan kemenangan.
Sepakbola selalu kejam sama seperti pertarungan yang lain. Hanya mereka yang menang yang akan dikenang. Kekalahan dan ribuan protes ketidakpuasan hanya bergemuruh sesaat seperti petasan. Terbakar lalu berbunyi dan setelah itu sunyi. Ia tak punya tempat di masa depan.***


Tinggalkan Balasan