Para Masokis: Cerita Kiper-Kiper Hebat

Kiper Timnas Spanyol, Unai Simon. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

“Setelah bertahun-tahun dimana aku melihat banyak hal, yang benar-benar aku tahu tentang moralitas dan tanggungjawab seorang manusia, aku pelajari dari sepakbola”. Ini pernyataan seorang Albert Camus. Filsuf kelahiran Aljazair 7 November 1913 ini adalah seorang penjaga gawang yang sempat memperkuat tim Racing Universitaire d’Alger semasa mudanya. Camus berhenti bermain bola karena terserang TBC. Para pengagum Camus selalu berpendapat bahwa dengan posisi sebagai penjaga gawang – Ia bebas “melihat” dan “memahami” perilaku manusia yang lain – tak peduli ungkapan di atas telah dimodifikasi.

Benarkah sepakbola dan terutama penjaga gawang memiliki posisi demikian penting? Dulu ketika permainan ini mulai populer, penjaga gawang telah jadi satu posisi yang paten. Ia diberi “kuasa khusus” untuk menjaga gawangnya – berupa dua tiang ditancapkan ke tanah – agar tak dilewati bola. Sepakbola punya statistik baku untuk mengukur sebuah kemenangan dengan gol. Itu berarti tak boleh ada bola yang masuk ke gawang.

Orang ramai menyebut kata “penjaga gawang” yang merujuk pada diksi bahasa Inggris “goalkeeper”. Lalu jadi sebatas “keeper” yang berarti penjaga. Indonesia menyebut dengan lebih sederhana – kiper. Ini menunjukan vitalnya peran “penjaga” yang bisa dipahami sebagai kemampuan personal. Ia subyek untuk sebuah obyek yang dijaga. Entitas yang bergerak dan punya kuasa meski Ia sendirian.

Dalam bukunya “The Outsider : A History Of The Goalkeeper”, Jonathan Wilson menyebut kiper adalah “orang asing” dalam sebuah permainan sepakbola. Ia punya peran yang berbeda. Punya aturan sendiri. Saat 10 pemain yang lain dalam sebuah tim dilarang menggunakan tangan, kiper diwajibkan menggunakan tangan.

Saat 10 pemain yang lain diset-up dengan game plan dan taktikal untuk bikin gol, Ia jadi satu-satunya pemain yang harus mencegah agar bola tidak melewati garis gawangnya. Kiper makin terlihat sendirian karena Ia juga harus menggunakan seragam yang berbeda. Ia punya kuasa tapi dibatasi dalam sebuah kotak.

Gianluigi Buffon, kiper hebat Italia yang memenangkan Piala Dunia 2006 menyebut kiper itu “masokis”. Seseorang yang lebih memilih menderita. Saat tim menang Ia jarang mendapat rasa hormat. Sebaliknya jika kalah, kiper adalah sosok tempat semua sumpah serapah disemburkan.

Meski begitu – bisa apa sebuah tim tanpa kontribusi seorang kiper?. Saking pentingnya peran ini, regulasi tentang kiper paling banyak diubah sesuai tuntutan sepakbola yang kian modern. Ironisnya regulasi yang diubah itu justru mengeliminasi kebebasan kiper dan bertujuan untuk membuka ruang lebih besar agar gol bisa lebih banyak tercipta.

Dulu dengan tangan Ia bebas mengatur tempo. Bisa lebih banyak “bermain” dengan bola. Namun setelah final Euro 1992, saat kebiasaan Peter Schmeichel dengan Denmark yang lebih banyak membuang waktu – dimana bola diberikan ke bek lalu dikembalikan lagi dan kiper bisa menangkap bola itu dengan tangan – ditinjau secara serius. Kiper dilarang menangkap bola backpass dari rekannya.

Kiper juga dilarang melepas bola dalam area penalti lalu menangkapnya kembali saat pemain lawan mendekat. Ia hanya boleh melangkah dengan memegang bola sejauh empat langkah. Durasinya dihitung cukup 6 detik. Di Piala Dunia 2026, pelanggaran durasi 6 detik berujung pada hukuman tendangan sudut untuk tim lawan.

Tujuan semua regulasi itu adalah produktifitas gol. Jangan membuang waktu. Bayangkan tak cukup menghadapi 10 pemain yang membombardir gawangnya dari berbagai sudut, gerak kiper juga dibatasi dengan aturan yang mencekik kesendiriannya.

Apa yang paling anda ingat tentang seorang kiper? Penyelamatan spekta yang membawa tim sempurna menjadi juara atau kekonyolan aksi yang berujung kekalahan?

Memori kolektif saya tentang kiper di level lokal Maluku Utara berkelindan erat dengan prestasi Persiter Ternate. Klub sepakbola amatir yang punya jejak hebat dalam sepakbola Indonesia terutama di kelompok usia muda. Sebut saja Thamrin Ismail, kiper juara Soeratin 1978. Saat masih kecil, teman yang memilih jadi kiper pasti dengan bangga menyebut dirinya kiper Tam. Lalu ada Majid Abdul Muthalib, Wahidin Husein yang menduplikasi seragam warna-warni milik kiper Meksiko – Jorge Campos, Muhlis Sahrun yang membawa Persiter promosi ke Divisi Utama PSSI 2005. Atau beberapa kiper hebat yang bermain sampai ke level Asia. Sebut saja Hengki Oba, Iswan Karim dan Ade Mochtar.

Di level internasional, sosok yang kerap muncul dalam “photography memory” saya terbilang banyak. Bisa memulainya dengan Dino Zoff yang membawa Italia juara Espana 1982, Nery Pumpido dengan Argentina di Meksiko 1986, Bodo Illgner bersama Jerman di Italia 1990 dan beberapa kiper hebat yang jadi juara dunia bersama negaranya setelah itu.

Buffon, Fabian Barthez, Iker Casillas, Hugo Lloris, Manuel Neuer, Emi Martinez jadi nama yang paling familiar karena selain sukses bersama Timnas negaranya memenangi Piala Dunia, mereka juga sukses besar di level klub. Ini berbeda dengan Claudio Taffarel yang membawa Brazil juara di Amerika Serikat 1994 atau siapa yang masih mengingat Marcos? Kiper yang bermain di semua laga Brazil yang jadi juara di Korea dan Jepang 2002.

Di Piala Dunia 2002, gelar pemain terbaik malah disabet oleh Oliver Kahn, kiper Jerman yang membawa Der Panzer ke final. Prestasi Kahn sampai saat ini belum disamai oleh kiper manapun.

Hans van Breukelen dan Peter Schmeichel mungkin sedikit pengecualian dari Piala Dunia karena mereka berdua adalah “Hero” bagi Belanda saat juara Eropa 1988 dan Denmark untuk gelar yang sama tahun 1992.

Jejak kiper sensasional sampai kini masih jadi milik Lev Yashin. Kiper Uni Sofyet ini dijuluki “laba-laba hitam” karena sepanjang karirnya mengenakan seragam hitam-hitam dan melakukan banyak penyelamatan spektakuler.

Ia melakukan lebih dari 200 save di level klub dan Timnas dengan 150 di antaranya adalah menggagalkan tendangan penalti. Yashin jadi satu-satunya kiper yang memperoleh Ballon d” Or di tahun 1963. Ia juga memperkenalkan penyelamatan dengan kaki dan selalu membuang bola jauh ke depan.

Revolusi ini kemudian disempurnakan oleh Manuel Neuer dengan memperkenalkan “sweeper-keeper” – penjaga gawang yang naik ke garis akhir pertahanan dan sering menyapu serangan lawan dengan kontrol terfokus. Neuer juga jadi orang pertama yang melakukan build up serangan di level klub maupun di Die Manschaft. Jangan pula lupa nama dua kiper “gila” yang kerap bikin gol. Rugeri Ceni dan Jose Luis Chilavert. Ceni tercatat bikin lebih dari 100 gol selama bermain sebagai seorang kiper.

Soal penampilan nyentrik yang belakangan bikin orang ramai sulit melupakan mereka, selain Campos yang terbilang “kecil” dengan kostum warna-warni menentang arus zaman, kita juga tak boleh melupakan Rene Higuita. Berambut ikal gondrong dengan tubuh gempal, Higuita selalu bikin sensasi di setiap laganya. Kiper Kolombia ini kerap membawa bola jauh naik ke tengah lapangan, melakukan penyelamatan nyeleh dengan tendangan kalajengking atau aksi-aksi menentang gaya fisika yang bikin penonton histeris.

Di Piala Dunia 2026 yang memasuki fase knock out, terjadi sedikit anomali dalam urusan kiper. Jika sebelumnya orang ramai cenderung membicarakan nama-nama kiper yang sudah beken dengan kiprah prestisius di level klub atau Timnas, kali ini yang membuat kagum malah deretan kiper yang berasal dari negara yang baru debut di Piala Dunia.

Vozinha mungkin nama pertama. Kiper Tanjung Verde ini adalah benteng kokoh yang meredam keganasan para matador Spanyol. Selama 90 menit Ia menahan gempuran lini ofensif Spanyol dan memaksa pertandingan berakhir imbang 0-0. Ia jadi MOTM. Kiper 40 tahun ini adalah salah satu bintang Tanjung Verde yang membawa negara kepulauan ini melaju ke babak 32 besar.

Argentina besok pagi akan jadi ujian berikutnya bagi Vozinha dan Tanjung Verde. Setelah Spanyol dan Uruguay yang dipaksa imbang – dunia menanti aksi Vozinha yang berhadapan secara langsung dengan pencetak gol terbanyak Piala Dunia (saat ini) Lionel Messi. Argentina diunggulkan tapi tetap waspada. Di level Piala Dunia sebagaimana selalu saya tulis : bakat dan kebintangan pemain saja tidak cukup. Kemauan untuk menang yang selalu jadi pembeda.

Selain Vozinha, kita tak boleh mengabaikan kiprah Orlando Gill. Kiper muda Paraguay ini mempermalukan Jerman secara langsung. Dua save-nya di babak adu pinalti tak hanya mengeleminasi Kimmich dkk tapi juga memutus rekor 100 persen Jerman yang selalu menang setiap adu penalti di Piala Dunia.

Cerita adu penalti juga menempatkan nama Yassine Bounou sebagai sebagai bintang utama. Empat tahun lalu Bono sudah populer bersama Maroko yang jadi tim Afrika pertama di semifinal Piala Dunia. Saat “menghapus” Belanda dari babak knock out Piala Dunia 2026, penyelamatan Bono dengan satu tangan di babak adu pinalti kini terus dibicarakan.

Begitu juga dengan kontribusi Diogo Costa yang kerap jadi penyelamat Portugal dari gempuran Kroasia atau di babak penyisihan grup sebelumnya. Inggris punya Jordan Pickford yang klinis dan kerap jadi komandan di lini belakang dengan teriakan-teriakan untuk mengatur.

Satu nama yang baru saja memecahkan rekor 517 menit bermain tanpa kebobolan milik Walter Zenga di Italia 1990 adalah penjaga gawang nomor satu Spanyol – Unai Simon. Konsistensinya menjaga gawang La Furia Roja telah menyentuh angka 519 menit tanpa kemasukan gol. Ini memperjelas pilihan pelatih De La Fuentes yang memainkannya dibanding kiper Arsenal David Raya. Pertemuan Spanyol vs Portugal di babak 16 besar akan jadi head to head Costa dan Unai.

Daftar kemunculan kiper hebat selama gelaran Piala Dunia di Amerika, Kanada dan Meksiko ini akan menjadi panjang jika kita menuliskan kiprah Eloy Room dari Curacao, Mohmoud Quanada (Qatar) dan Zion Suzuki (Jepang). Ada juga Dominic Livakovic (Kroasia) dan Alireza Beiranvand (Iran).

Besok lusa saat peluit dibunyikan sebagai tanda sepak mula di Meksiko dan pesisir timur Amerika hingga partai final di New York nanti, dunia akan mengamati dengan “passion” yang tak berkedip dan “personality respect” terhadap kiprah para kiper. Benar mereka masih sendirian karena warna jersey yang berbeda – tapi kesendirian itu sangat menentukan langkah sebuah tim. Berhenti atau melaju dan jadi juara.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini