Petani Ternate Diimbau Waspada Kemarau, Dinas Pertanian Siapkan Langkah Mitigasi
AyoTernate.com – Dinas Pertanian Kota Ternate mengimbau para petani untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang mulai melanda wilayah Maluku Utara.
Cuaca panas berkepanjangan diperkirakan akan memengaruhi ketersediaan air, pertumbuhan tanaman, hingga produktivitas hasil pertanian.
“Musim kemarau tentu menjadi tantangan bagi sektor pertanian. Karena itu kami mengimbau petani agar menyesuaikan pola tanam, menggunakan air secara efisien, serta menerapkan teknik budidaya yang dapat mengurangi dampak kekeringan,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kota Ternate, Faisal Harun, pada Senin (3/8/2026).
Menurutnya, komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, bawang merah, sayuran daun, terung, kacang panjang, dan mentimun menjadi tanaman yang paling rentan terdampak. Selain itu, komoditas perkebunan seperti pala, cengkeh, dan kelapa juga perlu mendapat perhatian khusus.
Faisal menjelaskan, musim kemarau berpotensi menyebabkan berkurangnya ketersediaan air, kelembapan tanah menurun, meningkatnya risiko kebakaran lahan, hingga serangan hama dan penyakit tertentu.
Selain itu, petani juga didorong memanfaatkan pupuk organik, mulsa, dan pemanfaatan air yang lebih efisien agar kelembapan tanah tetap terjaga.
“Kami juga mengingatkan petani agar membuat penampungan air, melakukan penyiraman pada pagi atau sore hari, serta rutin memantau kondisi tanaman agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.
Disampaikan, berdasarkan informasi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Maluku Utara saat ini mulai memasuki musim kemarau.
Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi siklus musim tahunan yang diperkuat fenomena El Nino di Samudra Pasifik yang telah berada pada kategori kuat berdasarkan anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4.
BMKG memperkirakan intensitas El Nino berpotensi meningkat menjadi kategori sangat kuat pada periode Agustus hingga September 2026. Di saat yang sama, terdapat indikasi berkembangnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif di Samudra Hindia yang turut mengurangi pembentukan awan hujan di Indonesia bagian timur, termasuk Maluku Utara.
Akibat kondisi tersebut, curah hujan diperkirakan berada di bawah normal, suhu udara meningkat, periode hari tanpa hujan menjadi lebih panjang, dan risiko kekeringan di sejumlah wilayah semakin tinggi.
Karena itu, Faisal berharap, petani terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dari BMKG dan berkoordinasi dengan penyuluh pertanian agar waktu tanam serta pengelolaan lahan dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca.
“Melalui pengelolaan air yang baik, penggunaan teknologi budidaya yang tepat, dan kerja sama seluruh pihak, kami berharap produksi pertanian Kota Ternate tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” tutupnya.
(srm/srm)


Tinggalkan Balasan