Norwegia vs Inggris: Duel Dua Predator

Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel berikan instruksi ke pemain. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Inggris berada dalam situasi yang nyaman setelah Declan Rice, Marc Guehi dan Reece James terlihat berlatih bersama tim Jumat sore. Situasi yang membuat Thomas Tuchel tersenyum. Rice sempat absen latihan dua hari karena virus, Guehi bermasalah dengan kebugaran dan James sebelumnya mengalami cedera. Apakah ketiganya akan bermain melawan Norwegia di Miami Stadium dinihari nanti?

Tuchel yang akan tentukan. Ketiganya adalah pilar penting di struktur bermain Inggris. Rice belum tergantikan. Ia beri keseimbangan. Kemampuan berlari dengan bola termasuk istimewa, belum lagi long pass verticalnya. Rice adalah dinamisator lini tengah Inggris. Ia bisa juga jadi bek jika situasi darurat. Guehi tak tergantikan sebagai bek tengah. Duet bareng Konsa jadi tembok kokoh. Begitu juga James yang bermain sebagai bek kanan atau gelandang.

Menghadapi Norwegia – The Three Lions butuh tim lengkap. Juga konsentrasi sepanjang laga. Dari lima laga, mereka belum terkalahkan. Inggris sudah bikin 11 gol. Termasuk produktif dengan Harry Kane sebagai goal getter utama (6 gol). Jude Bellingham bikin 4 gol dan satu gol sisanya oleh Marcus Rashford.

Ini produktifitas yang bisa juga jadi “kartu mati”. Saat Kane dan Bellingham diputus koneksinya dan diisolasi maka Inggris ada dalam situasi sulit. Inggris butuh tak sekadar kreatifitas tapi gol dari Antoni Gordon, Bukayo Saka, Noni Madueke dan Rashford.

Kane tetap akan jadi tombak utama dengan Bellingham di belakangnya dalam skema 4-2-3-1. Dua sisi flank akan ditempati Gordon dan Saka. Di tengah, kembalinya Rice jadi jaminan duet paling impresif bersama Elliot Anderson.

Di belakang, Pickford akan dapat perlindungan dari o’ Reilly, Guehi, Konsa dan Spence. Meski James sudah pulih tapi menurut saya berisiko jika Ia dimainkan sejak awal. Ada opsi untuk memainkan bek raksasa Dan Burn sejak awal untuk menjaga Haaland tapi tetap berisiko dan berpotensi merusak chemistry di lini pertahanan.

Kebobolan 5 gol dari lima laga sebelumnya patut jadi fokus. Pertahanan Inggris tak boleh lengah. Haaland adalah predator kelas satu. Ia sangat efektif memanfaatkan peluang. Tak banyak bergerak tapi begitu ada kesempatan kecil, daya ledaknya langsung merusak. Belajar dari Brazil, konsentrasi saat menjaganya harus 1000 persen.

Apalagi Haaland sudah mengetahui benar kelebihan dan kekurangan bek-bek Inggris. Sebagian adalah rekan satu tim di City, sebagian lagi adalah rival kompetisi yang sudah sering “dikelabui”. Pickford juga punya rekor minor saat Everton menghadapi Haaland.

Inggris dalam lima laga sebelumnya punya kecenderungan untuk menguasai bola dengan pressing tinggi. Rotasi pemain sangat efektif dan mengalir. Mereka juga agresif untuk merebut kembali bola yang hilang. Kekuatan utama terletak di lini tengah dan half space sebelah kiri. Penetrasi Gordon didukung O’Reilly jadi senjata di area ini.

Tuchel juga selalu meminta pasukannya untuk bergerak simultan, umpan-umpan pendek jadi prioritas. Saat build up, pemain Inggris akan lebih banyak berada di area permainan lawan. Pola Inggris selalu sama seperti pertandingan sebelumnya.

Karena itu, Saya berasumsi perang terbuka akan terjadi di sisi flank dan tengah. Norwegia memang bukan unggulan tapi mereka telah teruji di turnamen ini saat melawan Perancis – memainkan semua cadangan karena ingin di posisi runner up grup dan memilih braket lawan Brazil yang sudah mereka pulangkan.

Norwegia dalam kondisi psikologis yang sangat percaya diri setelah menang atas Brazil. Pelatih Stale Solbakken akan kembali memainkan skuad terbaik. Mereka bermain mengandalkan kolektifitas dengan struktur game plan yang mengandalkan low block. Cenderung menunggu untuk lakukan serangan balik cepat yang mematikan.

Ada dua opsi jika melihat semua laga yang sudah dimainkan Vikings. Pertama; kuasai bola lalu build up dengan umpan pendek dari belakang. Beberapa kombinasi dilakukan dengan Kapten Odeegard sebagai pusat gerak. Jika buntu, Norwegia punya opsi kedua. Long ball ke Sorloth untuk menghindari lawan memotong umpan pendek. Sayap Atletico Madrid ini selalu menang duel bola atas dan pintar melakukan crossing mencari Haaland.

Inggris saat bermain dengan garis pertahanan tinggi perlu mewaspadai opsi kedua ini. Kiper Orjan Nyland punya passing sempurna jika mengawali serangan. Begitu juga pergerakan anak muda di sayap kiri yang biasanya masuk dari bangku cadangan – Andreas Shcjelderup. Dua assistnya ke Haaland berbuah gol ke gawang Brazil.

Erling Haaland sendiri akan tetap jadi pilihan utama. Postur tinggi besar dengan gerakan cepat, penguasaan bola nyaris sempurna dan finishing yang teruji adalah kelebihannya sejauh ini. Sudah 7 gol dicetak Haaland dari empat pertandingan. Hampir separuh dari total 11 gol Norwegia. Haaland mesti diisolasi tapi bagaimana caranya?. Bermain dengan tiga bek yang konsisten menjaganya akan mengeleminasi kekuatan Inggris. Tetap dengan dua bek tengah seperti biasa juga berbahaya.

Satu-satunya cara adalah memastikan Haaland tidak mendapat supply bola bebas di area terlarang. Koneksinya dengan kapten Odeegard wajib diputus selama laga. Begitu pula dengan bola crossing dari dua sayap cepat Vikings – Alexsander Sorloth dan Antonio Nusa. Atau kehadiran Shcjelderup yang tak boleh dibiarkan bebas di flank kanan pertahanan – salah satu titik lemah Inggris selama ini.

Dengan skema 4-3-3, Solbakken akan memainkan dua gelandang jangkar yang berbeda fungsi. Patrick Berg akan menjaga kedalaman dengan berdiri statis di depan lini pertahanan. Sementara Sander Berke akan jadi jembatan untuk menghubungkan lini per lini.

Di belakang, empat bek sejajar tak berubah. David Moller Wolfe di kiri dan Marcus Pedersen di kanan akan mengawal dua bek tengah Vikings – Torbjorn Heggem dan Kristoffer Ajer. Kiper Nyland yang bermain gemilang saat lawan Brazil jadi benteng terkahir untuk menghindari gol-gol Inggris.

Norwegia harus benar-benar fokus. Sedikit kesalahan akan berdampak fatal karena Inggris punya duet ganas – Kane dan Bellingham. Kebobolan 9 gol di lima laga sebelumnya bukanlah statistik yang bagus. Solbakken wajib mengingatkan lini belakang agar meminimalisir kesalahan sekecil apapun.

Inggris lebih diunggulkan untuk lolos ke babak semifinal tapi Norwegia bukan tim semenjana yang kebetulan tampil di babak 8 Besar Piala Dunia kali ini. Mereka punya keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi. Semangat kebersamaan sebagaimana filosofi “Viking Row” adalah kekuatan yang tak boleh diabaikan.

Di luar aspek taktikal dan statistik kedua tim – satu hal yang berpotensi jadi handycap Inggris adalah kutukan pelatih asing. Sejak Piala Dunia pertama tahun 1930, belum pernah ada pelatih asing yang membawa negaranya jadi juara dunia. Pelatih delapan negara yang mengangkat Piala Dunia semuanya adalah pelatih lokal. Tuchel adalah satu-satunya pelatih asing yang masih bertahan dengan timnya hingga babak 8 Besar kali ini.

Satu hal yang pasti – laga di Miami akan jadi akhir dari sebuah tontonan di luar urusan sepakbola. “Viking Row” punya Norwegia atau “Wonderwall” Oasis yang jadi brand baru Inggris.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini