Prancis vs Spanyol: Sepakbola Menyerang vs Penguasaan Bola
Oleh: Asghar Saleh
Sebelum sebuah laga – pelatih dan stafnya akan menonton permainan tim lawan. Lalu mereka membuat analisa. Memotret kelebihan dan kekurangan lawan. Lini per lini. Kemudian menjadikan sebagai game plan. Ada diskusi dan masukan. Rencana-rencana permainan kemudian dibawa ke latihan tim. Pelatih menjelaskan sambil mempraktekkan. Detail sekali. Bagaimana bertahan. Transisi, pergerakan pemain, open play, antisipasi set peace hingga simulasi tendangan penalti mengingat ini babak semifinal.
Jadi simulasinya begini saat menghadapi Prancis dinihari nanti. Empat bek sejajar harus konsisten menjaga. Jangan beri ruang. Pressing tinggi. Di kanan, Pedro Porro memegang Disere Doue. Di kiri Marc Cucurella menjaga Ousmane Dembele. Pau Cubarsi dan Aymeric Laporte mengawasi Kylian Mbappe dan Michael Olise. Prancis tak boleh dibiarkan mencetak gol. Selesai?
Simulasi benar. Fakta di lapangan tak semudah itu. Saat wasit meniup sepak mula, anda akan sadar bahwa rencana anda hanya untuk menutupi satu masalah tapi menciptakan masalah lain. Mencoba menutup satu pintu tapi pintu lain terbuka. Fokus menjaga Mbappe sama dengan membiarkan Dembele bebas. Menjaga Dembele sama dengan memberi ruang untuk Doue. Menutup ketiganya sama dengan membebaskan Olise berkreasi.
Lini serang Prancis sepanjang turnamen sangat berbahaya. Dari 16 gol yang sudah dibuat Les Blues, semuanya datang dari lini serang – Mbappe (8), Dembele (5), Barcola (2) dan Doue (1). Yang bikin masalah tambah rumit adalah pergerakan lini serang mereka sangat cair. Mereka saling memahami, tak diam menunggu. Mereka terus berputar, bertukar posisi dan menyeret para bek lawan untuk keluar dari formasi.
Lalu bagaimana menghadapi lini serang Prancis? Jujur saya katakan tidak ada caranya. Formasi anda bikin. Instruksi anda teriakkan dari sisi lapangan sepanjang laga, tapi Mbappe dkk punya kecepatan, sirkulasi yang berkualitas dan kecerdasan dalam mengeksekusi setiap peluang. Yang bisa dilakukan hanya mengurangi bahaya. Batasi peluang bikin gol. Terus berkomunikasi dan saling mengingatkan.
Menghentikan Mbappe dkk selama 90 menit menurut saya rasanya mustahil. Kita sudah menonton semua laga di Piala Dunia kali ini, ada tim yang produktif tapi gol mereka tergantung satu pemain. Gol mereka juga kadang datang dari kaki dan kepala para bek. Prancis berbeda. Semua penyerang sudah bikin gol termasuk yang bermain dari bangku cadangan. Saat tim punya penyerang selevel yang begitu klinis dalam bekerja sama, setiap serangan akan berakhir gol. Itulah mengapa Prancis jadi unggulan untuk juara kali ini.
Sejak Didier Deschamps mengumumkan skuadnya, saya selalu mengatakan bahwa lini serang mereka adalah yang paling mewah di Piala Dunia kali ini. Saya sempat meragukan lini tengah Prancis. Hanya ada Rabbiot, Kante, Tchouameni, Manu Kone dan Warren Zaire Emery. Ini jadi titik lemah. Apalagi saat Tchouameni cedera. Kante sudah terlalu tua, Emery hebat di PSG tapi minim pengalaman.
Lalu muncul Manu Kone. Ia bermain di AS Roma dan luput dari amatan media. Tapi penampilannya bikin lini tengah Les Blues sangat stabil. Secara subyektif – belum selevel penampilan terbaik Kante dan Pogba tapi Kone mendekati level keduanya secara bersamaan. Kone sama dengan gabungan Pogba dan Kante. Ia berani bawa bola saat tertekan lawan, punya progresif pass dan tetap disiplin saat menutup ruang.
Kombinasi Kone dan Rabbiot bikin lini tengah Prancis jadi seimbang. Apalagi Deschamps secara efektif menggeser Olise ke tengah. Kreatifitas di lini tengah jadi sangat menonjol. Akan menarik perang di sektor ini karena Spanyol yang jadi lawan di semifinal punya tradisi hebat di lini tengah. DNA Spanyol sejak level akademi sangat kuat dengan visi passing dan kontrol. Karena itu, mereka selalu melahirkan gelandang elegan.
Rabbiot, Kone dan Olise akan head to head dengan Rodri, Dani Olmo dan Fabian Ruiz yang menurut saya akan jadi pilihan pertama De La Fuente kali ini. Rodri seperti biasa akan bertugas menjaga kedalaman, Fabian memutus serangan lawan dan bisa tiba-tiba ada di kotak penalti Prancis untuk bikin gol dan Olmo menekan lini pertahanan Prancis agar tak bebas mengatur build up.
DNA Spanyol yang saya sebut di atas secara berjenjang membatasi lahirnya penyerang hebat dari tim matador. Mereka terbiasa bermain dengan false nine. Lebih banyak penyerang bertipe space creator dibanding nomor 9 yang statis dalam kotak penalti dan bertugas bikin gol saja. Itulah mengapa mereka baru bikin 11 gol dari 6 laga. Mikel Oyarzabal yang selalu diplot sebagai penyerang baru bikin 4 gol. Merino yang supersub itu bikin 2 gol. Yamal dan Buena masing-masing satu gol. Sisanya dibikin para bek.
Ada anomali lain di laga yang mempertemukan dua unggulan ini. Ketajaman lini serang Spanyol akan berhadapan dengan ketangguhan para bek Prancis yang baru kebobolan 2 gol dari enam laga. Yamal yang paling ditunggu kontribusinya. Di sisi lain, lini serang Prancis yang mengerikan akan coba diredam oleh pertahanan Spanyol yang sangat bagus. Unai Simon baru kebobolan 1 gol sepanjang turnamen.
So siapa yang akan menang? Jika bicara rekor pertemuan keduanya, Spanyol lebih baik. Mereka selalu jadi batu sandungan bagi Prancis di major tournament dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, De La Fuente membawa Yamal dkk jadi juara Nations Leaque setelah menang adu penalti di partai final. Setahun sebelumnya dalam Euro 2024, Spanyol juga yang menyingkirkan Mbappe dkk di partai semifinal.
Spanyol punya rekor luar biasa. 36 pertandingan resmi tanpa terkalahkan sejak Maret 2024. Mereka dalam posisi yang bagus untuk menyamai rekor abadi milik Italia yang tak tersentuh kekalahan sebayak 37 kali di tahun 2021. De La Fuente punya banyak pilihan taktikal. Ia pelatih yang cenderung memainkan game kolektif. Transisi mereka selalu berawal dari penguasaan bola. Passing dan kontrol sekali lagi jadi kunci.
Deschamps juga sama. Pendekatan ke pemain, ketenangan saat laga dan kemampuan memaksimalkan potensi pemain adalah kelebihan pelatih yang sedang membuat rekor untuk dirinya sendiri. Jika Prancis lolos ke final, Deschamps jadi satu-satunya pelatih yang membawa tim ke tiga final Piala Dunia berturut-turut. Saya juga berharap wasit tak merusak laga ini dengan keputusan-keputusan yang mengaburkan semangat sepakbola.
Yang kita saksikan di Dallas Stadium nanti adalah benturan permainan menyerang Les Blues dengan game kolektif berbasis penguasaan bola punya La Furia Roja. Setiap lini akan berperang dengan kreatif. Ini salah satu pertandingan yang menurut saya akan jadi laga terbaik saking berkualitasnya. Siapapun yang menang sangat berpeluang besar untuk jadi juara Piala Dunia kali ini. Kali ini – Prancis lebih saya jagokan untuk jadi finalis.***


Tinggalkan Balasan