Jerman vs Paraguay: Saatnya Kembali Jadi Tim Besar
Oleh: Asghar Saleh
Kabar baik itu datang dari markas Jerman di Amerika – Nathaniel Brown, bek muda yang absen saat lawan Ekuador sudah kembali berlatih dan terlibat dalam sesi latihan terakhir sebelum babak 32 besar dinihari nanti.
Jerman akan bertemu dengan Paraguay di Boston. Pertemuan kedua tim terakhir terjadi dalam laga 16 besar Piala Dunia 2002 di Jeju Korea. Saat itu gol telat dari Oliver Neuville membawa Jerman ke babak selanjutnya. Paraguay tersingkir.
Dua dekade setelah Jeju, Jerman juara 2014. Paraguay masih tetap jadi tim “kelas menengah ringan” di sepakbola regional Amerika Selatan maupun di ajang Piala Dunia.
Kembalinya Brown membuat Julian Nagelsmann sepertinya akan makin yakin untuk memainkan sebelas pertama sama seperti saat mengalahkan Curacao dan Pantai Gading. Dengan catatan membuat 10 gol dari kontribusi 7 pemain menunjukan sisi ofensif Jerman termasuk mengerikan. Lini serang telah membuat gol. Havertz, Musiala, Undav dan Sane menyumbang 7 gol.
Hanya Florian Writz yang absen. Writz diharapkan bermain lebih lepas dan pintar saat lawan Paraguay. Dia berpeluang bikin gol. Nmecha dan dua defender Schlotti dan Brown juga menyumbang gol. Artinya semua lini berkontribusi.
Problem utama Jerman seperti saat lawan Ekuador adalah kemauan untuk menang. Mereka harus menepis kritikan Gary Lineker bahwa ini tim terlemah Jerman sepanjang sejarah Piala Dunia. Saatnya mengembalikan mentalitas Jerman yang sudah jadi benchmark Die Mannschft.
Kekalahan dari Ekuador menunjukan sisi lemah Jerman. Mereka terancam mudah dieksploitasi jika bermain dengan garis pertahanan tinggi. Struktur bermain dan game plan juga sebaiknya lebih cair. Efektifitas lini depan harus lebih fokus untuk bikin gol. Writz dan Musiala yang sejauh ini masih under perform harus lebih berani dan kreatif dengan atau tanpa bola.
Jerman tak boleh lagi bermain sebagai sekumpulan pemain profesioanal yang membela klub. Intensitas harus dinaikkan. Nagelsmann akan memainkan skuad yang sama minus Schlotti yang absen karena cedera. Rudiger jadi pengganti. Undav tetap jadi supersub.
Paraguay bukan lawan tangguh. Game plan mereka mirip dengan Ekuador. Menunggu dengan low block. Lalu lakukan serangan balik Meski diakui kualitas mereka sedikit di bawah Ekuador yang lebih agresif.
Tim besutan pelatih Gustavo Alvaro ini adalah tim dengan produktifitas gol terendah yang lolos ke babak 32 besar. Selama fase grup, mereka hanya bikin 2 gol. Satu saat kalah dari Amerika dan satunya saat menang atas Turki. Paraguay sudah kebobolan 4 gol.
Dua center bek Gustavo Gomes dan Omar Aldereta selalu mengorganisasi garis pertahanan yang rendah. Kemungkinan ada penumpukan pemain di sepertiga area pertahanan. Kesabaran dan kreatifitas Jerman dibutuhkan untuk membongkar pertahanan model ini. Jangan lupa di babak knock out, hasil pertandingan ditentukan juga lewat adu penalti saat imbang di waktu normal. Ini bisa jadi target dari tim-tim yang bermain defensif.
Paraguay kehilangan gelandang dinamis Diego Gomez karena akumulasi kartu. Tetapi kembalinya Miguel Almiron yang dihukum wasit saat menutup mulut dalam laga sebelumnya berpotensi menghidupkan lini serang Paraguay.
Secara statistik dan perfoma sepanjang babak penyisihan grup, Saya meyakini Jerman akan menang dalam waktu normal. Havertz, Undav dan Writz berpotensi bikin gol.
Brazil vs Jepang
*Guru unggul tipis*
Bigmatch babak 32 besar Piala Dunia 2026 akan terjadi di Houston Arena malam ini. Unggulan juara Brazil akan bertemu wakil Asia yang impresif sepanjang babak penyisihan grup – Jepang.
Pertemuan ini ibarat reuni guru dan murid. Tiga dekade lalu, Jepang berbenah dengan membangun infrastruktur dan lakukan lompatan visoner dengan membuat kompetisi lokal yang berkualitas. Zico dikontrak sebagai top players. Beberapa bintang Brazil juga didatangkan. Zico bahkan terlibat dalam pembinaan pemain muda dan menularkan ilmu kepelatihannya untuk Jepang.
Hasilnya dinikmati Jepang dalam sepuluh tahun terakhir. Ratusan pemain mereka bermain di Eropa. Kualitas tim nasional naik level. Jepang memiliki struktur bermain yang sangat dinamis. Semua pemain terlibat baik saat menyerang maupun bertahan. Organisasi bermain sangat impresif didukung kualitas individu yang berkualitas dan merata di semua lini.
Di bawah asuhan Hajime Moriyasu, Jepang mengawali kampanye Piala Dunia dengan menahan imbang Belanda 2-2. Samurai Biru menang besar atas Tunisia 4-0 dan kembali imbang dengan Swedia 1-1 di laga terakhir grup. Mereka belum pernah kalah.
Karena itu Moriyasu tak akan banyak melakukan pergantian pemain. Hanya Kubo dan Ko Itokura yang absen karena cedera. Posisi Itokura sangat mungkin digantikan oleh Shogo Taniguchi. Lini tengah punya banyak pilihan dengan kemungkinan Nakamura, Tanaka, Kamada dan Doan bermain sejak awal. Lalu barusan penyerang akan jadi milik Ayase Ueda diapit Junya Ito dan Daizen Maeda.
Jepang sudah bikin 7 gol yang dikontribusi oleh lima pemain berbeda. Mereka kuat secara kolektif. Skema 3-4-3 kesukaan Moriyasu terbilang sangat cair. Nakamura menurut saya jadi pemain yang butuh perhatian khusus oleh Brazil.
Tentang gol, Brazil juga terbilang produktif. Mereka bikin jumlah yang sama dengan Jepang dengan 7 gol. Perbedaannya adalah 7 gol Brazil hanya dibuat oleh Cunha (3) dan Vinicius (4). Karena itu keduanya dipercaya tetap jadi starter.
Pilihan Cunha untuk menggantikan Igor Thiago yang tampil mines di laga pertama saat ditahan imbang 1-1 oleh Maroko terbukti jadi senjata efektif. Cunha terbiasa bermain bebas dan cocok jadi false nine. Ia penyerang yang tak menunggu di kotak penalti. Vinicius juga diberi kebebasan oleh Carlo Ancelotti yang paham benar gaya mainnya sejak bersama di Real Madrid.
Sayang Brazil kehilangan Raphinha. Sangat mungkin Rayan akan jadi starter untuk melengkapi skema 4-3-3 yang ofensif. Para gelandang dan bek tak ada rotasi. Paqueta juga makin membaik di dua pertandingan terakhir grup. Brazil perlu bermain lebih kreatif untuk membuka kolektifitas permainan Jepang.
Laga keduanya akan sangat menarik karena selalu bermain terbuka. Yang jadi catatan adalah trend gol kedua tim. Jepang lebih banyak bikin gol di babak kedua. Sedangkan Brazil hampir semua golnya terjadi di babak pertama. Artinya jika Brazil gagal bikin gol saat berhadapan dengan kolektifitas Jepang, maka Ancelotti perlu melakukan antisipasi. Jangan sampai laga berakhir dengan adu tendangan pinalti.
Meski “Sang Guru” lebih diunggulkan tapi kualitas Jepang yang bermain sebagai sebuah tim dengan pondasi kolektifitas tetap wajib diwaspadai. Oktober tahun lalu dalam sebuah ujicoba di Tokyo – Brazil dikalahkan 3-2. Secara statistik pertemuan, Brazil menang 6 kali dalam 8 pertemuan terakhir.
Satu hal yang bikin respek adalah Ancelotti selalu menghormati siapapun lawannya. Ia cenderung mengkalkulasi semua kemungkinan dan meresponsnya dengan game management yang terukur. Brazil dalam laga ini tak boleh hanya mengandalkan Cunha dan Vini saja. Lini tengah harus jadi alternatif untuk bikin gol.
Laga Brazil vs Jepang adalah pertarungan dua master. Moriyasu dan Ancelotti. Saya memprediksi Brazil akan mengalahkan Jepang dengan skor tipis. Casemiro akan jadi aktor penentu.***


Tinggalkan Balasan