Iran yang Menolak Mati

Sejumlah pemain Timnas Iran. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Ini bukan tentang perang antara Trump dan Iran. Bukan juga cerita tentang 40 tahun sanksi ekonomi dan perang 8 tahun dengan Irak yang tak mampu “menghilangkan” bangsa Iran dari peta geopolitik timur tengah.

Ini tentang heroisme sebuah tim sepakbola yang sejak awal “dipersulit” untuk tampil di Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Iran memastikan bermain di Piala Dunia untuk ke 7 kalinya setelah lolos langsung dari grup A kualifikasi Piala Dunia zona Asia.

Banyak optimisme jika “Team Melli” akan berprestasi setidaknya lolos dari babak penyisihan grup. Iran pertama kali bermain di Piala Dunia tahun 1978 di Argentina. Mereka gagal lolos ke babak gugur. Sempat absen lama karena perang dengan Irak yang didukung Amerika, Iran baru kembali bermain di Prancis 1998.

Salah satu partai “terpanas” kala itu mentas di Lyon. Iran yang dalam ketegangan tinggi harus bertemu “Setan Besar”. Mereka sukses mengalahkan Amerika Serikat 2-1. Namun ini satu-satunya kemenangan di fase grup dan mereka gagal ke babak gugur.

Kegagalan di penyisihan grup kembali terjadi di Jerman 2006, Brazil 2014, Rusia 2018 dan Qatar 2022. Yang perlu diingat adalah kemenangan Iran atas Maroko di Rusia. Begitu juga empat tahun lalu saat langkah mereka dijegal Amerika lewat kekalahan 0-1.

Target kebangkitan di Piala Dunia kali ini sejak awal seperti menemui tembok tebal. Perang dengan Israel yang didukung penuh Amerika sejak awal tahun ini membuat Iran kesulitan menggelar kompetisi domestik, tim nasional tak bisa berlatih dan kondisi dalam negeri jadi tak menentu.

Bayangkan sebuah negara akan bermain di Piala Dunia tapi tak ada kompetisi domestik untuk menentukan formasi pemain terbaik. Tak ada tempat latihan. Para pemain sibuk mengurus keluarga mereka dari ancaman rudal. Iran kemudian memilih Turki untuk lakukan TC. Beberapa partai uji coba juga digelar di sana.

Sesuai hasil drawing, Iran bergabung dengan Belgia, Mesir dan Selandia Baru. Belgia dan Mesir diunggulkan. Namun yang bikin sesak adalah venue grup ini berpusat di Amerika.
So, sempat terjadi tarik ulur partisipasi Iran. Karena perang yang memanas dengan “verbal war” yang terus dikampanyekan Presiden Trump, Iran sempat berpikir untuk mundur karena tidak ada jaminan keamanan.

Belakangan mereka pastikan ikut tapi perkara “masuk” ke Amerika bukan sesuatu mudah. Nyaris semua tim partisipan diperlakukan dengan protokol yang ketat. Apalagi untuk “musuh” Amerika. Visa tim Iran ditolak. Namun karena berhak ikut Piala Dunia, visa masuk pemain dan pelatih diperbolehkan. Beberapa staf tim dilarang. Begitu juga suporter Iran.

Karena kasulitan-kesulitan itulah dan tidak ijin tinggal di Amerika, Iran memilih bermarkas di Tijuana, Meksiko. Patut diketahui Los Angeles – tempat Iran akan bermain memiliki penduduk yang prural. Sebagian besar ekspatriat Iran ada di kota ini namun mereka adalah pendukung rezim Syah Pahlevi yang terguling saat Revolusi Republik Islam Iran 1979.

Karena itu ada bendera Iran masa Pahlevi yang berkibar. Setiap lagu kebangsaan Iran dinyanyikan, suara siulan bercampur ejekan selalu terdengar. Tak ada respek. Dan Amerika tetap mempersulit meski Iran tidak tinggal di wilayahnya. Batas waktu masuk untuk Timnas Iran hanya sehari sebelum laga. Lalu setelah itu langsung balik lagi ke Tijuana.

Bayangkan betapa lelahnya – sebuah tim akan menempuh perjalanan sekitar 4 jam ke venue. Terbang dari Tijuana ke Los Angeles. Persiapan bermain hanya sebentar lalu setelah wasit meniup peluit akhir, mereka harus segera berkemas untuk meninggalkan tanah Amerika. Kapten Ehsan Hajsafi menyebut ketidakadilan ini sangat merugikan timnya. “Kami datang untuk sepakbola, bukan karena kepentingan politik. Kenapa dipersulit”.

Tekanan dan teror tak mengubah mentalitas Iran. Di laga perdana grup G, mereka bermain imbang dengan Selandia Baru. Bukan perjuangan yang mudah. Dua kali mereka ketinggalan dan dua kali pula menyamakan kedudukan lewat gol Ramin Rezaeian dan Mohamad Mohebi. Skor 2-2 bikin kedua tim dapat poin 1. Usai laga mereka “dipulangkan” ke Meksiko.

Dan pagi tadi Iran kembali bermain di Los Angeles. Terbang lagi dari basecamp mereka di Meksiko. Mereka menantang salah satu tim terbaik Eropa di laga kedua grup. Dengan kepercayaan diri dan konsisten mempertahankan struktur dan game plan, Mehdi Taremi dkk menahan imbang Belgia 0-0. Kiper Alireza Beiranvand melakukan 7 save gila untuk mempertahankan gawangnya. Penjaga gawang dari klub lokal ini terpilih sebagai pemain terbaik.

Ada sebuah insiden yang memicu perdebatan saat gol dari Taremi dianulir VAR karena offside. Padahal gambar-gambar menunjukan posisi Taremi onside saat menerima bola. Mestinya gol yang bisa jadi nanti paling ikonik di Piala Dunia 2026 lewat skema tendangan bebas ini disahkan wasit.

Taremi yang sempat bermain di Inter Milan dan kini memperkuat Olympiakos di Yunani adalah satu-satunya pemain yang saya kenal. Bomber utama ini tergolong produktif dan jadi inspirasi tim. Sisa pemain yang lain tidak familiar. Atau adakah yang mengenal mereka?

Padahal di periode 90an, kita akrab dengan bintang-bintang sepakbola Iran. Sebut saja Mehdi Mahdavekia yang bermain di Hamburg SV, Khodadad Azizi yang memperkuat FC Koln atau Ali Daei yang sukses berkarir di Bayern Muenchen. Daei dengan 109 gol lama memegang rekor sebagai pencetak gol terbanyak untuk tim nasional sebelum dilewati Cristiano Ronaldo.

Iran dengan pelatih lokal yang tak dikenal publik sepakbola dunia – Amir Ghalenoei – saat ini dalam mode terbaik untuk lolos ke babak selanjutnya. Saya membayangkan mereka bermain dan berlari sambil membayangkan wajah puluhan siswa yang tewas dibunuh dengan rudal oleh Israel dan Amerika di Minab. Saya membayangkan jiwa mereka bergelora untuk mempertahankan kedaulatan sebuah bangsa lewat sepakbola.

Laga terakhir lawan Mesir jadi penentu. Memang bukan lawan yang mudah. Tapi Iran sudah terlanjur “berdarah’ karena semua kesulitan yang dihadapi. Jika meraih hasil positif maka mereka akan memecahkan kebuntuan di 6 Piala Dunia sebelumnya. Lolos ke babak knock out.

Kalaupun gagal lolos, Iran sejatinya telah memenangkan pertandingan. Menang di sini bukan semata soal sepakbola. Kegigihan mereka untuk bertarung dalam tekanan, bermain sebagai seorang pembela Tanah Air dan memberikan segalanya di atas lapangan hijau untuk martabat dan kebanggaan bangsa Iran adalah kemenangan yang historikal. Kemenangan yang sangat mahal.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Sosok

Dialog Tuhan