Buku dan Anak Muda, Menyemai Pikiran, Menjaga Peradaban
Oleh: Asrul Umarama
(Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara, UMMU Ternate)
Rentang tahun 2023 memperlihatkan gejala yang memprihatinkan: tulisan anak muda tentang buku mulai tergerus. Padahal, melalui buku lahir ide, pikiran, dan analisis atas fakta-fakta yang ada di sekitar kita. Dari proses membaca dan menulis, tumbuhlah gagasan yang berakar pada kemampuan berpikir mendalam dan analitis hingga menemukan kebenaran yang faktual.
Perkembangan zaman yang serba cepat melahirkan tumpang-tindih antara rasionalitas dan kepraktisan. Pikiran kritis dan reflektif kini sering kalah oleh kecepatan arus informasi. Padahal, membaca adalah sarang ilmu pengetahuan. Ia bukan sekadar kegiatan hobi, melainkan latihan mental untuk menata logika dan memperluas cakrawala berpikir.
Peradaban yang berubah cepat serta kemajuan teknologi yang melesat menuntut anak muda untuk tidak sekadar adaptif, tetapi juga produktif secara intelektual. Mereka harus mampu menghadirkan critical thinking, narrative knowledge, dan kesuburan pengetahuan di tengah derasnya arus digital.
Ruang-ruang diskusi pun bermunculan di berbagai tempat, baik di media sosial maupun ruang publik, menjadi wadah ekspresi dan pembentukan kesadaran baru. Dari ruang-ruang itulah lahir karya dan pemikiran yang tumbuh bersama dinamika zaman.
Herman Oesman pernah mengatakan, “mereka bukanlah akademisi, tetapi telah mengerjakan separuh pekerjaan akademisi: menulis dan menerbitkan karya.”
Melalui tulisan, anak muda membangun realitas semesta baru, menegakkan jangkar komitmen dan pemikiran. Mereka tidak sedang mengawetkan budaya tulisan, tetapi justru menghidupkan peradaban lewat aksara (baca: Ternate; Kotaku, Rumahku).
Sementara itu, Paul Ricoeur (1976) menegaskan pentingnya bahasa dalam membentuk makna. Dalam pandangannya, makna tidak hanya ditentukan oleh pengarang, tetapi oleh teks itu sendiri. Teks menjadi ruang di mana pikiran manusia berubah menjadi proposisi, sesuatu yang hidup dan terus ditafsirkan ulang.
Buku, pada hakikatnya, adalah sejarah. Aksara yang tergores pada setiap halamannya menyimpan kedalaman makna untuk diselami. Buku menjadi “penyambung” sejarah paling brilian yang pernah ada.
Banyak anak muda yang menjadikan buku sebagai sahabat ke mana pun mereka pergi. Dari buku, mereka belajar berbicara dengan isi, berpikir dengan struktur, dan berpendapat dengan landasan.
Seperti dikatakan dalam The Gutenberg Elegies (1987–1994), buku adalah penggerak waktu dan pengantar perjalanan ke dimensi meditatif manusia. Buku membawa kita menjelajahi menara waktu perenungan, tempat kita menemukan butir-butir kearifan dan tetesan peradaban.
Tak berlebihan bila dikatakan: temukanlah kebijaksanaan dari setiap halaman buku, sebab di sanalah peradaban bermula.
Buku juga dapat disebut sebagai “laki-laki peradaban”, yang berani melangkah menembus ruang dan waktu sejarah.
Di dalamnya tersimpan kearifan yang menjadi senjata pengetahuan, melahirkan nilai, dan menegakkan makna. Buku bukan hanya objek fisik, tetapi juga wadah emosional dan intelektual tempat manusia berlabuh untuk menegakkan nalar.
Namun di sisi lain, sebagian anak muda kini lebih sering terlibat dalam konflik dan kekerasan yang sepele. Mereka mudah tersulut emosi, kehilangan ruang refleksi.
Padahal, diskusi dan perdebatan seharusnya menjadi ajang pertarungan ide, bukan pertikaian fisik. Di ruang diskusi, anak muda seharusnya berkelahi dengan gagasan, bukan dengan tangan.
Dalam konteks sosial, terbentuk pula sentimen-sentimen kelompok. William Sumner (dalam Deaux, Dane, & Wrightsman, 1993) menyebutnya sebagai etnosentrisme — sikap menganggap kelompok sendiri lebih baik dari kelompok lain. Sikap ini menghambat interaksi sosial, menciptakan prasangka, dan menutup ruang dialog.
Di sinilah pentingnya buku: ia membuka jalan bagi pemahaman lintas batas dan lintas pikiran.
Pembentukan karakter anak muda tidak lepas dari pengaruh keluarga dan teman sebaya (peer group).
Kelompok pertemanan menjadi ruang belajar sosial yang sangat kuat — tempat mereka berbagi nilai, minat, dan visi hidup. Bila dalam lingkaran itu tumbuh tradisi membaca, maka lahirlah generasi yang berpikir.
Di akhir tulisan ini, saya ingin menegaskan, buku memiliki segalanya. Ia mengatur ritme diskusi publik, membuka ruang berpikir pribadi, dan membentuk profesionalisme intelektual.
Karena itu, saya ingin mengajak teman-teman muda, bertemanlah dengan buku. Jadikan buku sebagai panutan masa depan, tempat berdialog, dan sumber kematangan berpikir. Sebab, dari buku kita belajar menjadi manusia yang berakal, dan dari diskusi kita tumbuh menjadi intelektual yang disegani.***

Tinggalkan Balasan