Bonus yang Menurunkan Kualitas

Bagan 32 Besar Piala Dunia 2026. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Sudah 48 pertandingan berlangsung di Piala Dunia 2026. Tersisa 24 pertandingan lagi untuk menyelesaikan babak penyisihan grup yang melibatkan 48 tim – terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia.

Statistik gol mencatat rekor baru. Dari 48 pertandingan itu, 141 gol tercipta di atas rumput lapangan di Amerika, Kanada dan Meksiko. Jumlah ini menunjukan peningkatan yang sangat signifikan – mungkin karena jumlah peserta yang banyak. Atau juga yang banyak itu tidak mewakili kualitas sepakbola dengan standard yang pantas.

Kita harus jujur beberapa tim yang baru pertama ikut karena jatah regional bertambah sejauh ini jadi “lumbung gol”. Curacao misalnya sudah kemasukan 7 gol saat kalah dari Jerman. Yang paling menyedihkan adalah wakil Asia. Qatar dikalahkan 6-0, Yordania juga sama dengan kebobolan 5 gol – entah berapa lagi saat melawan Argentina di pertandingan terakhir grup J. Irak tak berbeda. Terakhir pagi tadi Uzbekistan dikolongin Ronaldo dkk lima gol tanpa balas.

Masih ada 24′ pertandingan lagi untuk babak penyisihan grup. Artinya potensi tambahan gol masih terbuka lebar. Apalagi beberapa tim yang sudah tersingkir akan kehilangan momentum untuk bangkit atau setidaknya menghindari kekalahan telak. Jumlah gol mungkin baru akan sedikit berkurang saat masuk babak gugur – sejak 32 besar hingga partai final nanti.

Perkara 32 besar ini yang sedikit bikin rumit. Karena konsekwensi jumlah peserta yang bertambah jadi 48 tim – FIFA kemudian menetapkan skema 32 besar agar turnamen tidak terganggu oleh regulasi mapan yang selama ini dipakai.

Dulu hanya ada 8 tim partisipan. Juara runner up langsung ke babak semifinal. Lalu bertambah partisipan untuk menyesuaikan kampanye sepakbola global hingga jadi 32 tim. Ada babak perdelapan final dan seterusnya karena pembagian jadi mudah. Dari 32 peserta ke babak 16 besar bersandar pada juara dan runner up grup. Selanjutnya ke 8 besar, lalu semifinal dan final.

Kali ini dengan 48 partisipan, ada 12 grup yang berisi 4 tim. Jika juara dan runner up saja yang lolos maka jumlahnya baru 24 tim. Tak memenuhi kuota 32 besar. Jadilah diambil 8 tim dari peringkat tiga terbaik. Sederhana hitungannya. Tapi menurut saya ini justru menurunkan kualitas turnamen. Ada tim yang sudah tersingkir tetiba mendapat pasokan oksigen baru dan bisa melanjutkan turnamen.

Apa yang dicari jika kualitas menurun? Bisnis kawan. Dengan jumlah peserta banyak, jumlah pertandingan jadi banyak. Hak siar televisi jadi panjang durasinya. Berbayar dan mahal, iklan sponsor jadi lama tayang, tingkat hunian hotel makin padat, transporasi dan kuliner ramai.

Bahkan untuk menayangkan iklan yang banyak itu, diaturlah pasal “hydration break” yang banyak diprotes itu. Sepakbola adalah olahraga fisik. Stamina jadi syarat utama. Bertahun-tahun semua tim paham ini dan selalu mempersiapkan diri. Jika alasan cuaca – lebih panas mana Amerika dengan Qatar misalnya.

Jadi sangat lucu saat badai menunda pertandingan Perancis melawan Irak yang tertunda hampir satu jam, lapangan tergenang, cuaca dingin tapi ada “hydration break“. Kita yang lagi tegang menonton karena kedua tim saling jual beli serangan, saat tensi pertandingan lagi naik, saat gol hampir tercipta karena serangan yang intens dan bervariasi harus kesal karena wasit meniup peluit untuk berhenti. Pemain juga sama. Saat tim sedang “panas” tiba-tiba diminta berhenti minum air. Momentum jadi hilang. Konsentrasi buyar.

Untuk apa “hydration break“. Untuk iklan kawan. Untuk mengumpulkan cuan. Piala Dunia kali ini diperkirakan memutar uang sekitar 80 Milyar dollar Amerika. Berapa keuntungan yang didapat FIFA? 13 Milyar dollar kawan. Itu setara dengan 233 Trilyun Rupiah. Nyaris sama besar dengan dana untuk MBG.

Dari mana duit sebanyak itu? Hak siar televisi jadi donatur terbesar. Siapa pesertanya? Kita. Yang tiap malam nonton dengan beli kuota Telkomsel. Ada Maxstreem dkk. Padahal sebelumnya banyak pejabat yang berkoar – kali ini siaran Piala Dunia gratis bisa nonton di TVRI. Iya gratis kalo pake antena “bulu”. Zaman ini berapa banyak yang punya antena itu?

Balik lagi ke level pertandingan. Dari dua laga di tiap grup yang sudah kelar, simulasi tim yang lolos pake “bonus” peringkat tiga terbaik mulai terbaca. Swedia, Skotlandia, Aljazair, Paraguay, Tanjung Verde, Belgia dan Republik Ceko jadi unggulan berebut jatah yang 8 itu. Empat negara lainnya berpeluang jika terjadi sesuatu diluar kuasa sepakbola. Kongo, Ekuador, Bosnia dan Senegal bisa saja jadi bagian dari 8 peringkat tiga terbaik.

Jika skenario ini berjalan setelah semua laga di tiap grup selesai maka di babak 32 besar – Jerman akan bertemu Paraguay dan Perancis melawan Swedia. Skema ini memastikan Jerman akan bertemu Perancis di babak 16 besar. Korea Selatan akan bertemu Swiss.

Bigmatch babak 32 besar akan terjadi antara Belanda vs Maroko dan Brazil vs Jepang. Ini dua pertandingan yang paling banyak ditunggu. Portugal akan bertemu Ghana dan terbuka peluang di babak selanjutnya akan melawan pemenang antara Spanyol vs Austria.

Tuan rumah Amerika akan bertemu Aljazair. Mesir vs Ceko, Pantai Gading vs Norwegia dan Inggris akan menjamu Tanjung Verde. Dua tuan rumah lainnya – Meksiko akan bertemu Scotlandia dan Kanada akan menjamu Belgia. Di pertandingan lain, dua wakil Asia akan saling bertemu – Australia vs Iran.

Slot sisanya akan mempertemukan Kolombia vs Kroasia. Bagaimana dengan juara bertahan Argentina? Messi dkk diprediksi akan bertemu sesama wakil CONMEBOL – Uruguay.

Dari bagan yang sudah ditetapkan di babak 16 besar nanti, selain Jerman vs Perancis, ada bigmatch Portugal vs Spanyol. Sekali lagi ini simulasi berdasarkan hasil dua laga di tiap grup, menghitung peluang tim di pertandingan ketiga grup yang akan dimulai pagi nanti dan potensi pertemuan beberapa tim sesuai bagan yang sudah ditetapkan.

Bisa jadi semua berjalan sesuai simulasi ini. Bisa juga berbeda tergantung hasil 24 pertandingan yang akan dimainkan setiap tim.
Ada banyak skenario untuk menuju partai final. Apakah Argentina akan bertemu Portugal di partai puncak dimana dua GOAT akan berebut jadi yang terbaik? Apakah Argentina back to back jadi juara sama seperti Italia (1934-1938) dan Brazil (1958-1962) atau akan ada juara Piala Dunia baru.

Sepakbola bukan matematika. Biar waktu tersisa yang menjawabnya. Jangan lupa siapkan kopi dan nasi kuning “bagadang”.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini