Messi dan Sepakbola yang Telah Selesai
Oleh: Asghar Saleh
Linimasa media sosial sejak pagi tadi dipenuhi dengan ragam postingan tentang Messi. Hanya sekali-kali diselingi pertunjukan epik dari seluruh tim Norwegia dan pendukung mereka yang melakukan “Viking Row” usai Halland cs membungkam perlawanan Senegal. “Panggayung” jadi viral.
Ada juga postingan sukses Kylian Mbappe dan Erling Halland yang bikin brace sehingga Piala Dunia kali ini dipenuhi euforia para bomber yang ganas. Bayangkan kawan – sudah sangat lama para penyerang hebat yang datang dengan rekor mengerikan di level klub pada akhirnya hanya jadi semenjana di Piala Dunia. Top skor ajang sepakbola terbesar ini mentok di angka 5 – 8 gol sejak Piala Dunia 2006.
Di Amerika, Kanada dan Meksiko kali ini, baru dua pertandingan sudah ada tiga pemain yang akan berebut sepatu emas. Messi memimpin dengan 5 gol. Mbappe dan Halland mengikuti dengan 4 gol. Jangan lupa ada Harry Kane. Pencetak gol terbanyak Russia 2018 ini sudah bikin 2 gol saat Inggris mengalahkan Kroasia di pertandingan pertama grup.
Lima gol Messi dari 2 pertandingan hanya berselisih dua gol dari capaiannya saat Qatar 2022. So, yang jadi menarik saat ini adalah pertanyaan kunci – berapa jumlah gol yang akan dibikin Messi saat Argentina bertemu Yordania? Wakil Asia ini sudah tersingkir dan menderita 5 gol.
Jika tampil konsisten, Messi berpeluang memecahkan rekor abadi Just Fontaine – penyerang Perancis yang bikin 13 gol pada Piala Dunia 1958 di Swedia. Jalan Argentina menuju partai final juga terbilang “mudah”. Lawan tangguh mereka baru ada di semifinal dengan potensi menghadapi Brazil. Tapi benarkah Messi mengejar rekor pribadi itu?.
Saya rasa tidak. Messi terlihat biasa saja saat membuat hattrick di laga lawan Alzajair. Gesturnya biasa saja saat bikin brace lawan Austria – meski sempat gagal penalti. Messi sudah melewati banyak hal hebat dalam hidupnya dengan sepakbola. 6 Ballon d’Or yang mustahil disamai siapapun nanti. Puluhan gelar di level klub. Dua Coppa Amerika dan satu Piala Dunia.
Messi saat ini dalam fase menikmati hidup. Dan sikap ini jadi senjata paling berbahaya yang dimiliki Argentina saat ini. Bermain tanpa tekanan. Di kelilingi oleh seluruh tim yang “siap mati” untuk dirinya, berjalan santai, scanning position, bikin satu dua sentuhan masterclass, menggaruk kepala, tersenyum – lalu tiba-tiba bikin gol.
Benar kata Gerardo Solario – asisten pelatih Argentina di Piala Dunia 2006 ; Bagi kami sepakbola adalah hidup dan kami bermain sebagaimana kami hidup”. Orang ini salah satu yang berjasa membentuk karakter Messi sejak masih junior. Ia sudah melihat potensi besar dan sejak awal melakukan proteksi. Membiarkan Messi tumbuh dengan hidupnya untuk sepakbola.
Lionel Andres Messi lahir di Rosario, 24 Juni 1987. Datang dari keluarga sederhana dan tak punya DNA sepakbola. Ia tumbuh sebagaimana anak anak Rosario hidup dan bermain bola. Karir sepakbola berawal di sebuah klub lokal – Grandoli FC saat berusia 4 tahun. Lima tahun Messi kecil bermain dan berlatih sebelum pindah ke klub lebih besar, Newell’s Old Boys.
Bakatnya yang luar biasa terendus “talent scouting” Barcelona dan pada tahun 2000, Messi pindah ke Barca. Ia mengukir banyak hal hebat dan jadi salah satu pemain legenda di tanah Catalan. Mencari tantangan baru, Messi sempat hijrah ke PSG dan akhirnya meniti karir bersama Inter Miami di MLS.
Solario ingat betul bagaimana Messi hadir di antara bintang-bintang “Tango” di Jerman 2006. Berusia 18 tahun, berambut gondrong, pendiam dan Jose Pakerman memberinya nomor punggung 19. Ia permata yang belum sepenuhnya terasah. Di laga lawan Serbia – Pakerman memberi kesempatan untuk bermain. Messi bikin satu gol. Ini gol pertamanya di Piala Dunia, 15 Juni 2006.
Argentina melaju hingga bertemu Jerman di babak perempat final. Dalam laga di Olimpia Stadion Berlin 30 Juni 2006, Tango memimpin lebih dulu lewat Roberto Ayala. Jelang usai, Miroslav Klose menyamakan kedudukan. Laga imbang hingga adu pinalti.
Berbekal kertas contekan yang diselipkan di kaus kaki, Jens Lehmann sukses memblok penalti Ayala dan Esteban Cambiasso. Jerman menang 4-2. Uniknya di kertas contekan itu, ada nama Messi dengan instruksi bergerak ke kiri. Sayangnya Messi tak bermain karena di pergantian pemain babak kedua, Pakerman lebih memilih Julio Cruz – penyerang tinggi untuk mengimbangi dominasi bek-bek Jerman yang selalu menang bola atas.
Empat tahun berselang, Argentina menatap Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan dengan optimisme tinggi. Maradona jadi pelatih dan Messi membawa Ballon d’Or pertamanya plus lima gelar bersama Barcelona. Apa yang terjadi? Messi tak sekalipun bikin gol. Langkah mereka kembali terhenti di babak perempatfinal oleh musuh yang sama – Jerman.
3 Juli 2010 di Cape Town, gol cepat Thomas Muller di menit ke 3 memaksa Argentina bermain lebih menyerang. Di babak kedua, brace dari Miro Klose dan gol penutup dari Arne Freidrich membuat Argentina pulang dengan kekalahan telak 4-0. “Di level Piala Dunia, skuad yang dipenuhi pemain muda akan kesulitan dengan tim yang dipenuhi pemain bintang yang punya mentalitas juara, Jerman punya semuanya”.
Messi balik ke Barcelona dan kembali bikin banyak sukses. Ballon d’Or terus memenuhi lemari prestasinya. Mimpi juara Piala Dunia terus menghantui. Ia sadar setiap kekalahan atau kegagalan tak boleh meredupkan langkah. Menghentikan arah bola. Argentina tak boleh berhenti berlari.
Di Brazil 2014, Argentina lagi-lagi jadi unggulan. Messi datang dengan kematangan seorang bintang. Venue pertandingan hanya sepelemparan batu dari tanah kelahirannya. Ia juga sudah menerima semua kegagalan dan mengubahnya jadi pendorong untuk sukses. Alejandro Sabela seperti pelatih Timnas lainnya membangun tim untuk melindungi dan mendukung Messi.
Meski terseok karena harus menang adu pinalti di babak gugur, Messi sukses membawa Argentina ke partai semifinal. Ia sudah bikin empat gol sepanjang turnamen. Melawan Belanda jadi prioritas. Tapi Belanda bermain sangat bagus dan skor 0-0 di Sao Paolo membuat pertandingan diselesaikan dengan adu pinalti. Ketegangan mencekam kedua tim. Saat tendangan penalti Maxi Rodriques merobek gawang Belanda, Messi yang sudah jadi kapten tim menggantikan Javier Mascherano tertangkap kamera berteriak histeris. Melepas semua beban.
Sayangnya sebuah deja’vu menunggu di partai puncak. Jerman yang menyingkirkan Argentina di dua Piala Dunia sebelumnya telah menunggu setelah secara spektakuler mempermalukan Brazil dengan skor besar 7-1 di partai semifinal satunya. Kedua tim memulai dengan ritme yang hati-hati. Tak mau salah membaca strategi. Argentina punya tiga peluang emas yang mestinya berubah jadi gol. Gagal.
Pertandingan waktu normal berakhir tanpa gol. Saat banyak yang mengira akan berujung adu penalti, sebuah tusukan di area kanan pertahanan Argentina berujung umpan silang ke kotak pinalti. Mario Gotze mengontrol dengan dada dan sebelum si kulit bundar menyentuh rumput, tendangan setengah voly-nya merobek gawang Romero. Messi terdiam. Argentina terhuyung. Jerman juara di tanah Amerika Latin. Sebuah capaian hebat dengan generasi emas yang matang di bawah kendali Joachim Loew.
Jerman benar-benar jadi mesin pembunuh untuk Argentina. Trauma ini sekaligus menghadirkan respek. Walikota Tidore, Muhammad Sinen yang sangat fanatik mendukung Argentina dalam sebuah percakapan mengakui superioritas Jerman. “Tong ini cuma tako Jerman saja. Sejarah tulis bagitu. Yang Laen tong tra anggap“. Saya menimpalinya dengan trauma yang sama soal Jerman terhadap Italia.(Beruntung Italia tidak ada).
Butuh empat tahun menunggu. Seturut itu banyak yang mulai pesimis. Messi beranjak tua. Sepakbola makin mendunia. Banyak kejutan muncul. Tim-tim baru siap jadi pesaing. Tapi Argentina seperti memikul beban hutang yang belum terbayar. Bagaimana bisa punya pemain hebat dengan 6 Ballon d’0r tapi selalu gagal.
Jorge Sampaoli ditunjuk untuk jadi juru taktik. Seperti biasa, Argentina tak terhentikan di kualifikasi zona CONMEBOL. Mereka kembali lolos ke Rusia 2018. Bergabung di grup D, Argentina memulai kampanye dengan hasil imbang 1-1 lawan Islandia. Di laga kedua, gol Messi membawa Tango mengalahkan Nigeria 2-1. Di laga terakhir grup, Argentina di luar dugaan kalah besar dari Kroasia 3-0. Hasil yang membuat mereka finish sebagai runner up dan harus bertemu Perancis di perempatfinal.
Dan di Kazan Arena, brace Mbappe melengkapi gol dari Antonie Griezmann dan Benjamin Pavard yang hanya mampu dibalas dengan gol Angel Di Maria, Gabriel Mercado dan Sergio Aguero. Perancis menang 4-3. Argentina lagi-lagi tersingkir.
Saat Piala Dunia 2022 di gelar di Qatar, dunia masih terhipnotis dengan Mbappe. Cepat, bertenaga, masih muda dan Perancis punya tim yang sangat solid di bawah arahan Didier Descamps. Mereka datang ke Qatar sebagai juara bertahan dan jadi unggulan utama. Argentina? Mulai jarang dibincangkan. Messi terus menua. Orang ramai lebih sibuk membandingkan prestasinya dengan Cristiano Ronaldo.
Mereka lupa Messi masih punya hasrat yang sama. Ia tak pernah padam. Modal bagus dibawa ke Qatar. Menurut saya ada dua faktor penentu yang membuat Argentina sangat percaya diri. Pertama, Lionel Sebastian Scaloni “diminta” Messi untuk membesut Tango. Ini teman satu kampung Messi. Scaloni lahir di Rosario 16 Mei 1978. Karir sepakbolanya biasa saja. Saat Piala Dunia 2006 di Jerman, Ia jadi bagian dari skuad bersama Messi meski tak sekalipun bermain.
Apa yang dibutuhkan Messi hingga menginginkan Scaloni? Kepercayaan. Messi butuh kepercayaan untuk menggendong Argentina. Dan Ia tahu Scaloni adalah orang yang tepat untuk mengatur pemilihan pemain, menyusun game plan dan memastikan mesin Argentina bekerja untuk Messi.
Faktor kedua adalah sukses mereka jadi juara Coppa Amerika 2021. Ini gelar regional yang berulang kali diinginkan Messi tapi gagal. 2015 dan 2016, Argentina dua kali ke final dan dua kali pula dihancurkan Chili. Butuh waktu 5 tahun untuk gelar pertama Messi di level Timnas. Di final mereka mengalahkan rival abadi di Amerika Latin – Brazil lewat gol tunggal Angel Di Maria.
Dengan skuad yang sama, Argentina datang ke kawasan teluk. Di laga pertama grup C mereka di luar dugaan kalah dari Arab Saudi. Tegang. Dunia meragukan namun Argentina lolos setelah mengalahkan Polandia dan Meksiko. Di babak perempat final, gol tunggal Messi menyingkirkan Australia.
Messi kembali bikin gol saat lawan Belanda di perdelapanfinal lewat pinalti. Argentina sempat unggul 2-0 sebelum disamakan Oranje. Di babak adu pinalti, Virgil van Dijk dan Steven Berghuis gagal membobol gawang Emi Martinez. Argentina melangkah ke final. Ini pertandingan paling brutal karena wasit mengeluarkan 18 kartu kuning dan satu kartu merah untuk Denzel Dumfries.
Di babak semifinal lawan Kroasia, Messi lagi-lagi bikin gol lewat titik pinalti. Argentina menang 3-0 setelah Julian Alvarez bikin brace. Ini pembalasan setimpal untuk kekalahan Argentina di fase grup Piala Dunia 2018 dari Kroasia dengan skor yang sama.
Sejarah kemudian menulis dengan tinta dari Surga, ketika di partai final yang berlangsung di Losail Stadium, Messi bikin gol dari titip putih dan open play. Perancis dengan Mbappe sempat bikin pendukung Argentina bungkam. Ia bikin hattrick untuk keunggulan setelah Di Maria sempat menyamakan kedudukan. Di akhir waktu perpanjangan waktu, Messi muncul sebagai dewa penyelamat. Golnya memaksa laga final dilanjutkan ke babak adu pinalti.
Messi begitu percaya diri saat jadi penendang pertama. Golnya menginspirasi kepercayaan diri Dybala, Paredes dan Gonzalo Montiel untuk bikin gol. Perancis gagal karena tendangan Kingsley Coman dan Aurelian Tchouameni di blok Emi Martinez.
Argentina juara. Messi jadi pemain terbaik. Jadi kapten yang menyamai idolanya Maradona – mengangkat Piala Dunia. 7 gol selama di Qatar membuat debit golnya di ajang Piala Dunia bertambah jadi 13.
Usai euforia itu, Messi kembali bermain seperti biasa. Ia memilih “menyepi” di kompetisi Amerika. Orang ramai tidak lagi melihatnya. Mereka lupa Messi memilih Amerika karena Ia ingin beradaptasi lebih awal. Ingin nyaman dengan tanah, udara dan suara-suara Amerika yang bising.
Lihat aksinya di dua laga awal. Setiap jengkal rumput adalah temannya. Ia bermain tanpa beban. Di level Piala Dunia saat sorotan kamera dan algoritma memaksa viralitas lewat aksi individu yang menyihir, Messi seolah-olah berjalan di dunia yang lain.
Dia pertandingan lawan Aljazair dan Austria, Messi bermain seperti seseorang yang tidak terlihat sedang mengejar rekor. Ia bermain dengan penuh kenikmatan, mengambil keputusan yang tepat, menunggu momen, membaca situasi dan rekor demi rekor mengikutinya begitu saja. Tak ada emosi berlebihan saat rekor itu pecah talamburang.
Bagi kebanyakan pemain perkara mencetak gol di Piala Dunia adalah hal tersulit. Tapi Messi mengubahnya jadi sesuatu yang biasa. Ia menjadikan yang sulit itu seperti rutinitas biasa. Ia telah lewati semua etape, berganti pelatih dan pemain baru datang bergabung selama 5 Piala Dunia. Dan bikin gol jadi tugas tetapnya.
Sejak pertama kali nonton Piala Dunia tahun 1978 – saat mengira jersey Argentina itu putih hitam karena televisi belum berwarna zaman itu atau mengira Daniel Passarella itu orang Ambon – saya sudah melihat banyak penyerang hebat, tapi saya belum pernah melihat seseorang yang membuat sejarah terasa sangat natural. Saat dunia menyaksikan sesuatu yang hebat dengan tatap kekaguman, Messi melaluinya dengan cara sederhana – sebagaimana orang-orang Argentina yang menjalani hidup.
Satu-satunya yang menganggu saya adalah ketakutan masa depan : bisa apa Argentina tanpa seorang Messi?
Selamat Ulang Tahun Lionel Andres Messi!
(24 Juni 1987 – 24 Juni 2026)


Tinggalkan Balasan