Turki yang Malu dan Perang Liga Inggris di Grup F

Timnas Turki. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Bermain di dua pertandingan dengan penguasa bola di atas 70 persen, bikin lebih dari 20 tembakan ke arah gawang, punya belasan shoot on target dan gagal bikin satupun gol lalu tersingkir adalah pukulan paling tragis untuk Turki.

Bagaimana bisa? Itulah sepakbola. Di grup ini tak banyak orang yang memprediksi Turki akan jadi tim Eropa pertama yang tersingkir. Mereka pulang lebih cepat saat Piala Dunia belum berjalan setengah turnamen. Kemana Arda Guler dan Hakan Calhanoglu yang demikian cemerlang di Real Madrid dan Inter Milan?

Turki jadi sama posisinya dengan Haiti yang juga pulang lebih awal setelah dikalahkan Brazil. Turki kalah dari Paraguay dan Australia yang di pertandingan ketiga grup C akan berebut salah satu tiket ke babak 32 besar mendampingi tuan rumah AS.

Di grup D, Ancelotti belajar dari hasil lawan Maroko sebelumnya. Memainkan Matheus Cunha adalah pilihan taktikal yang cerdas. Meski sempat tegang di 20 menit awal – gol Cunha di menit 23 menghilangkan beban Brazil secara tim. Sayang di babak kedua tak ada gol tambahan.

Catatan paling penting adalah selama 90 menit laga, Haiti berulang kali bikin peluang gol. On target mereka 4′ dari 8 percobaan tembakan ke gawang. Hanya kalah satu peluang dari Brazil. Ini signal buruk karena di babak selanjutnya Brazil akan berhadapan dengan tim-tim yang kualitasnya di atas Haiti.

Ketergantungan pada Vini Jr masih sangat dominan. Paqueta membaik. Dan berdoa moga Raphinha tidak mengalami cedera serius. Neymar? Lupakan saja. Peluang Brazil masih dipertaruhkan saat lawan Skotlandia di laga terakhir grup. Skotlandia punya peluang lolos yang sama besar. Sedangkan satu tiket sepertinya akan jadi milik Maroko yang akan melawan Haiti yang sudah pasti tersingkir.

Tengah malam nanti, laga panas di grup F akan kembali terjadi. Kali ini Belanda menjamu Swedia. Hasil di pertandingan pertama sudah memberi bukti. Belanda tertahan dan Swedia menang besar. Boleh dikata nanti malam adalah “perang kecil” di Liga Inggris. Pertahanan Belanda yang dijaga pemain belakang Liverpool, Totenham Hotspurs, Arsenal, Chelsea dan Brighton Albion akan digempur penyerang utama Arsenal dan Liverpool. Sama-sama saling tahu kelebihan dan kekurangan.

Koeman sepertinya tetap dengan sebelas pertama yang sama saat menghadapi Jepang. Belanda hanya butuh konsistensi dan hasrat untuk menang. Tidak merasa aman saat unggul lebih dahulu. Pergantian pemain juga jadi evaluasi serius bagi Koeman karena terbukti di laga lawan Jepang, keputusan mengganti gelandang dengan bek jadi blunder. Lini tengah yang semula imbang akhirnya direbut Jepang di sepertiga babak kedua. Begitu juga menarik Summerville dan memasukan Depay yang hanya mengurangi agresivitas Oranje.

Lini tengah Belanda terutama Ryan Graverberch perlu menaruh perhatian lebih pada pergerakan gelandang Swedia keturunan Tunisia – Yasin Ayari. Pemain muda ini sangat mobile bergerak membuka ruang dan punya kemampuan bikin gol tinggi. Hanya dia gelandang yang sudah bikin dua gol di Piala Dunia sejauh ini.

Belanda vs Swedia jadi salah satu bigmatch yang berpotensi mengubah nasib tim-tim di grup ini. Jika Belanda kalah maka peluang tersingkir lebih awal sangat besar. Swedia bisa jadi juara grup jika menang. Hasil seri bukan kabar bagus untuk Oranje dan akan bikin beban Swedia lebih ringan. Belanda berpeluang menang dengan catatan semua pemain bekerja sebagai sebuah tim. Mentalitas jadi faktor penentu karena Swedia berada satu langkah di depan.

Di grup E, Jerman berhasrat mengamankan tiket ke babak gugur lebih cepat. Menjamu Pantai Gading, Nagelsmann sangat mungkin tidak akan merubah starting eleven yang sama saat mengalahkan Curacao. Semua pemain dalam kondisi bugar. Kredit saya untuk Nathaniel Brown yang bikin gol dan bermain sangat impresif lawan Curacao. Sudah lama Jerman tak punya bek kiri bagus dan agresif sepeninggal Andy Brehme. Pemain muda ini dalam mood bagus setelah pasti bergabung dengan Bayern Muenchen.

Kredit juga untuk Kai Havertz dan Deniz Undav. Havertz bukan bomber utama tapi sukses bertransformasi dengan dua gol di pertandingan pertama grup. Undav selalu bikin tersenyum setiap kali masuk sebagai pemain pengganti. Satu-satunya evaluasi ada di sektor belakang terutama kerja sama dua bek tengah. Kebobolan dari Curacao adalah celah yang akan dicontoh tim lawan terutama yang mengandalkan serangan balik cepat.

Jerman wajib waspada karena Pantai Gading terbiasa bermain dengan pola itu. Transisi mereka juga tergolong cepat karena didukung pemain yang suka berlari. Lini tengah dan belakang Jerman wajib waspada pada pergerakan Yan Diamonde. Pemuda 19 tahun yang bermain di RB Leipzig ini paham DNA Jerman dan punya kemampuan melewati lawan. Dia salah satu pemain muda yang sangat menjanjikan di Piala Dunia kali ini.

Ancaman kedua ada pada pemain muda lainnya yang selalu jadi super sub. Namanya Amad Diallo. Berkembang sangat baik di MU dan terbukti jadi pembeda saat masuk di laga lawan Ekuador. Gol Diallo di penghujung laga memastikan tiga poin untuk Pantai Gading. Sayang tim Afrika ini belum punya pengganti selevel Didier Drogba.

Laga Jerman vs Pantai Gading akan berlangsung dalam tempo tinggi. Sirkulasi pemain dan bola sangat cepat. Jerman punya pengalaman dan modal berharga untuk menang. Dalam sejarah, kedua tim baru satu kali bertemu 7 tahun lalu di sebuah partai persahabatan. Hasilnya seri 2-2.

Jerman sekali lagi berpeluang besar untuk menang dengan skor tipis. Meski begitu, Pantai Gading tak boleh diremehkan. Seperti biasa kolektivitas Der Panzer yang digabung keindahan Musiala dan Writz akan jadi pembeda. Lawan Pantai Gading adalah ukuran level untuk mengetahui sejauh mana Jerman melangkah di Piala Dunia 2026.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Sosok

Dialog Tuhan