Menguji Pilihan Portugal

Cristian Ronaldo. Foto: Istimewa

Oleh: Asghar Saleh

 

Toronto Stadium Jumat pagi akan jadi saksi apakah jalan yang dipilih Portugal sesuai ekspektasi ataupun justru berbalik jadi kutukan? Portugal menurut saya sengaja bermain “biasa” dalam laga akhir grup lawan Kolombia. Mereka lebih nyaman bergabung di braket Eropa dibanding jadi juara grup K dan harus bermain lawan tim Afrika atau Amerika.

Laga lawan Kroasia – tim Eropa sebagaimana pilihan itu bisa dibilang salah satu bigmatch di babak 32 besar. Keduanya belum pernah bertemu di Piala Dunia. Di Nations Leaque dan beberapa laga uji coba, Portugal mendominasi dengan 7 kemenangan.

Meski begitu, Kroasia punya jejak mentereng di dua Piala Dunia terakhir. Rusia 2018, mereka finish di urutan 3. Empat tahun lalu di Qatar 2022 Kroasia jadi semifinalis. Delapan tahun sudah kekuatan Kroasia tidak berubah.

Pelatih Zlatko Dalic yang memimpin Vetrani sejak 2017 tetap membawa beberapa bintang lawasnya. Luca Modric tetap jadi kapten dan key player Kroasia. Masih ada Ivan Perisic dan Mateo Kovacic. Juga Josko Gvardiol.

Tentang Modric yang sudah berusia 40 tahun, di tiga laga grup dirinya masih jadi dinamo tim. Progresif passnya masih jadi kunci. Modric belum tergantikan. Menghadapi Portugal, bintang AC Milan ini bisa jadi kekuatan sekaligus kelemahan.

Masalahnya dia akan melawan gelandang Selecao das Quinas yang boleh dikata terbaik saat ini. 3 lawan 1. Jika Modric dikunci – Kroasia akan kehilangan kreatifitas. Mereka juga tidak punya kartu cadangan di bench.

Dalic selalu bermain dengan skema 4-2-3-1. Lini tengah jadi kekuatan dan akan head to head dengan 4-3-3 punya Roberto Martinez.

Portugal punya skuad mewah. Tapi masalahnya adalah sebagian besar bintang mereka bermain seperti level mereka di klub. Hanya menang saat kalahkan Uzbekistan lalu seri dengan Kongo dan Kolombia.

Ronaldo sempat bikin brace tapi kembali terisolir saat lawan Kolombia. Menurut saya, Roberto Martinez perlu lakukan pendekatan taktikal yang berbeda. Ini babak knock out. Ada opsi pertandingan diselesaikan dengan adu pinalti.

Akan jadi sebuah game plan yang mengejutkan jika Ronaldo tidak bermain sejak awal. Saya pilih opsi ini. Selain membuat lini pertahanan Kroasia bingung, Portugal butuh pemain lebih segar di lini depan. Gonzalo Ramos jadi pilihan rasional. Ini satu-satunya perubahan di sebelas pertama Portugal.

Kapan Ronaldo bermain? Bisa jadi di babak kedua untuk meningkatkan tekanan. Dengan kondisi lebih bugar, Ronaldo berpotensi mengakhiri kutukan Piala Dunia. 6 kali tampil di 6 Piala Dunia sejak 2006 dan punya rekor selalu bikin gol – CR7 ternyata belum pernah bikin gol di babak gugur.

Menyimpan Ronaldo juga bagian dari strategi untuk adu pinalti. Tapi dengan semua kekuatan lini per lini yang nyaris sempurna, menurut saya, Portugal memenangi laga ini.

Sekali lagi – sudah saatnya Joao Neves, Vitinha dan Bruno Fernandes bermain untuk tim nasional. Portugal tak butuh narasi besar di media tentang komitmen mereka untuk berjuang “memberikan” Piala Dunia untuk sang legenda hidup.

Joao Felix dan Neto juga mesti membuktikan diri pantas bermain di lini ofensif Portugal. Belum ada gol dari mereka. Kepantasan itu akan diuji tembok tebal bernama Dominic Livakovic yang sejauh ini kerap jadi penyelamat gawang Kroasia.

Melawan Kroasia adalah ujian grade A, apakah Portugal layak jadi unggulan juara sebagaimana Prancis, Brazil dan Argentina? Laga ini juga jadi persiapan taktikal dan mentalitas karena untuk sampai ke puncak, Ronaldo dkk mungkin masih harus melewati Spanyol dan Prancis.

Spanyol sendiri dinihari nanti akan berjuang melewati hadangan David Alaba dkk. Austria berada satu level di bawah mereka. Tapi bukan lawan yang mudah. Spanyol butuh kesabaran untuk membongkar kolektifitas pertahanan Austria. Hati-hati dengan transisi Austria. Spanyol diunggulkan untuk melaju.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini

Sosok

Dialog Tuhan